Rabu, 26 Agustus 2015

"DEDIKASI TANPA TEPI 2"



#FLASHBACK OFF

“Kringgg... Kringgg..” suara telepon berdering membuat si empunya mendekat, menggenggam gagang telepon, dan menaruhnya sejajar dengan telinga kanan.
“Halo..” sapa Bunda.
“Halo ibu, Saya adalah rekan seperjuangan Bapak Ryandi dari Batalyon 777 di Perbatasan Kalimantan Tengah.” Suara tegas dan gagah terdengar diseberang.
“Iya, ada apa ya, Pak? Suami saya kenapa pak?” tanya Bunda.
“Maaf Ibu, suami anda gugur di Medan Perang dalam menjalankan tugasnya sebagai Abdi Negara yang tengah mendapatkan mandat untuk menangkap Teroris di Hutan Belantara Palangkaraya. Dan saya menyampaikan pesan dari Atasan, Permohonan Maaf yang sebesar-besarnya karena sampai saat ini Jenazah Bapak Ryandi belum bisa diketemukan.”
“Prakkkk!!”

#FLASHBACK ON
Meskipun saat ini usianya masih remaja, tapi Rio sadar bahwa dirinya lah sekarang yang harus melindungi Ibu dan adik tersayangnya. Lengan yang mulai beranjak kekar itu dengan sigap merengkuh tubuh sang Bunda. Memberikan ketenangan bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan dirinya sendiri bahwa dia akan kuat dan bisa menjaga malaikat-malaikat tanpa sayap itu tanpa kehadiran sang Ayah di sisinya. Tapi sebisa mungkin Rio akan berusaha terlihat tegar didepan Ibu dan Adiknya.
*Caca POV*
Kenapa kenangan pahit itu selalu terlintas setiap malam difikiranku? Ayah.. Ayah kemana? Caca kangen ayah, Caca kangen yah.. Caca kangen dimana Ayah selalu memeluk Caca disaat Caca sedih? Caca kangen Mawar Putih yang selalu Ayah berikan saat Ayah pulang tugas dulu.. Caca kangen main sama Ayah.. Caca kangen.. Udah 10 kali kan Ayah tidak mengucapkan selamat ulang tahun buat Caca. Dan besok adalah yang ke 11, dan Ayah tidak mengucapkannya lagi. Padahal Ayah pernah janji, akan selalu ada buat Caca. Tapi kenapa Ayah pergi selama ini? Apa Ayah tidak sayang sama Caca? Caca sayang Ayah.. Lirih Caca.
Air matanya terus berjatuhan, pandangannya mulai buram dan akhirnya terlelap dalam tangisan rindu kepada sang Ayah yang membawanya ke alam bawah sadar.
Matahari mulai naik ke peraduan, menyingsingkan Bulan yang telah menemani malam. Sayup-sayup cahaya matahari menerobos celah-celah kaca. Pertanda pagi telah datang membayang. Menyadarkan orang-orang bumi untuk segera beraktivitas kembali. Kecuali Caca. Ia masih tak mau membuka kelopak matanya. Meskipun jam weker di samping tempat tidurnya telah menunjukkan pukul 06.00 AM yang terus berbunyi membangunkan sang pemilik benda tersebut. Hingga Bunda pun bergegas membangunkan putri kesayangannya yang mulai menginjak remaja.
“Ca, ayo bangun sayang? Kamu ndak sekolah nak?” ucap sang Bunda membangunkan sang putri.
“Hemmm.. Iya Bun, 5 menit lagi..” elak Caca.
“ Ini sudah jam 6 lebih sayang, nanti kamu terlambat ke sekolah. Kamu tahu kan Jakarta macetnya seperti apa, apalagi di jam-jam sibuk begini. Kamu mau dihukum lagi? Kamu mau Bunda dipanggil guru Bk lagi gara-gara kamu sering terlambat?” Nasehat sang Bunda.
“Hemmmm..” singkat Caca yang masih tak mau beranjak dari tempat tidurnya, meskipun hanya 1cm.
“ya ampun.. anak ini..” keluh Bunda.
Tiba-tiba sang kakak datang dari balik pintu..
“Belum bangun juga, Bun?”tanya Rio.
“Belum yo, Bunda jadi bingung harus bagaimana lagi bangunin adik kamu ini.”keluh Bunda
“Biarin aja Bun, Biarin dia milih tidur.Paling-paling bulan ini kartu ATMnya kosong”. Sandiwara Rio.
“Hahh.. apa??? Jangan dong kak, pleaseeee.. ya ya.. katanya Caca adik kesayangannya kakak? Masak kakak mau ngelihat adik kakak tercantik ini harus puasa belanja. Huft.” Merengek pada sang kakak.
“Makanya bangun.. kasihan kan Bunda. Ya udah kakak berangkat dulu, hari ini sampai 6 bulan ke depan, kakak ndak bisa pulang. Kakak dapat tugas di Poso untuk mengamankan Perang disana.”ucap Rio.
“What????kenapa kakak ndak bilang? Kakak jahat banget sih, apa ndak bisa di undur 1 hari aja? Besok kan ulang tahun Caca kak?” lirih Caca sambil menundukkan kepala.
“Kan kakak harus menjalankan kewajiban sayang. Inilah jalan kakak untuk menjadi Abdi Negara seperti cita-cita Ayah dulu yang ingin anaknya menjadi seorang TNI seperti beliau.”Jelas Rio
“Abdi Negara ya?? Trus kalau kakak kenapa-kenapa? Apa yang Negara berikan? Lihat kak, lihat. Apa yang sudah Negara berikan pada Ayah?? Jasadnya saja Negara tak mampu mengembalikan. Haha lucu sekali ya Negara ini.”ucap Caca.
Mendengar perkataan-perkataan adik yang paling ia sayangi itu, Rio hanya bisa menunduk. Hatinya bagai tersambar petir. Bagaimana bisa adiknya berbicara seperti itu. Hingga beberapa detik, terjadi keheningan di dalam kamar tersebut. Sang Bunda hanya bisa menatap tajam dan perlahan air matanya mengalir dihadapan putrinya itu. Akhirnya Rio yang semula hanya berdiam, kini berani mengakat kepalanya, dan membuka suara.
“Seorang Abdi Negara adalah tiang terkokoh untuk menjaga kedaulatan Negara dan menjaga Integrasi Nasional, supaya Negara ini tidak mudah dihancurkan oleh kelompok”ekstrem diluar sana. Jangan pernah bertanya apa yang telah Negara berikan, tapi bertanyalah apa yang telah kamu berikan kepada Negara. Karena setiap warga negara harus melaksanakan hak dan kewajiban secara seimbang. Jangan hanya menuntut hak, sedangkan kamu tidak mengerjakan kewajibanmu. Menjadi seorang prajurit  adalah sebuah kerahasiaan, dimanapun dan kapanpun berada membawa selendang merang putih yang telah tertanam kuat didasar sanubari. Untuk itu dari awal menjadi seorang prajurit harus siap menerima konsekuensi bahwasanya prajurit adalah milik Negara, dan apapun yang terjadi demi Negara. Untuk itu kakak akan pertaruhkan Jiwa dan Raga ini untuk Indonesia, untuk masyarakat. Itulah yang selalu Ayah ajarkan kepada kakak.” Nasehat Rio dengan tegas.
Sontak ucapan Rio mampu menyadarkan Caca, sedangkan sang Bunda langsung mengangkat kepalanya dan senyum simpul penuh bangga itu terlukis diwajahnya.  
“Maaf kak, Maaf Bun.. Caca yang salah..”tangis Caca
“Iya sayang..” Jawab Rio dan Bunda bebarengan, seraya memeluk gadis kecil yang masih labil jalan pemikirannya.
“Udah.. udah.. kok malah seperti adegan film gini. Jangan sedih lagi ya malaikat-malaikatku. Sebentar lagi udah harus sampai di Kantor nih. Jagain Bunda ya Ca, jangan nangis lagi, jadi anak yang pinter. Awas aja kalau masih buat Bunda nangis kayak tadi lagi, tuh ATM beneran kosong lo. Hehe”ucap Rio
“Iya, Iya kakak bawel.. O iya, Kak..”
“Ada apa lagi Ca?”
“Lihat deh jam itu, udah jam 06.45 WIB. Caca bolos sekolah dong?”
“ O iya, ya Ampun.. Kamu sihh..”
“Kok aku?? Ya Kakak dong, kan kakak yang ceramah terus daritadi.” Elak caca.
“Udah, Udah jangan bertengkar terus. Udah besar juga. Untuk kamu Ca, ini terakhir kalinya Bunda izinin kamu ndak masuk sekolah. Tapi inget, Hari ini Bunda akan panggilkan guru bimbel buat kamu. Sehari penuh dan kamu tidak boleh menolak.”
“Hemmm.. iyaa’’ bun..” pasrah caca.
“Ya udah, aku berangkat dulu ya bun, ca. Doakan semoga aku disana baik-baik saja, dan pulang dengan keadaan selamat, Assalamualaikum” ucap Rio seraya mencium punggung kanan sang bunda.
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, jaga diri baik-baik disana”. Pinta sang bunda.

Maaf ya guys, cuman dikit.. lagi gak punya inspirasi nih. tetep tunggu kelanjutannya yaaa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar