#FLASHBACK OFF
“Kringgg... Kringgg..” suara telepon berdering membuat si
empunya mendekat, menggenggam gagang telepon, dan menaruhnya sejajar dengan
telinga kanan.
“Halo..” sapa Bunda.
“Halo ibu, Saya adalah rekan seperjuangan Bapak Ryandi dari
Batalyon 777 di Perbatasan Kalimantan Tengah.” Suara tegas dan gagah terdengar
diseberang.
“Iya, ada apa ya, Pak? Suami saya kenapa pak?” tanya Bunda.
“Maaf Ibu, suami anda gugur di Medan Perang dalam
menjalankan tugasnya sebagai Abdi Negara yang tengah mendapatkan mandat untuk
menangkap Teroris di Hutan Belantara Palangkaraya. Dan saya menyampaikan pesan
dari Atasan, Permohonan Maaf yang sebesar-besarnya karena sampai saat ini
Jenazah Bapak Ryandi belum bisa diketemukan.”
“Prakkkk!!”
#FLASHBACK ON
Meskipun saat ini usianya masih
remaja, tapi Rio sadar bahwa dirinya lah sekarang yang harus melindungi Ibu dan
adik tersayangnya. Lengan yang mulai beranjak kekar itu dengan sigap merengkuh
tubuh sang Bunda. Memberikan ketenangan bahwa semua akan baik-baik saja.
Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan dirinya sendiri bahwa dia akan kuat dan
bisa menjaga malaikat-malaikat tanpa sayap itu tanpa kehadiran sang Ayah di
sisinya. Tapi sebisa mungkin Rio akan berusaha terlihat tegar didepan Ibu dan
Adiknya.
*Caca POV*
Kenapa kenangan pahit itu selalu
terlintas setiap malam difikiranku? Ayah.. Ayah kemana? Caca kangen ayah, Caca
kangen yah.. Caca kangen dimana Ayah selalu memeluk Caca disaat Caca sedih?
Caca kangen Mawar Putih yang selalu Ayah berikan saat Ayah pulang tugas dulu..
Caca kangen main sama Ayah.. Caca kangen.. Udah 10 kali kan Ayah tidak mengucapkan
selamat ulang tahun buat Caca. Dan besok adalah yang ke 11, dan Ayah tidak mengucapkannya
lagi. Padahal Ayah pernah janji, akan selalu ada buat Caca. Tapi kenapa Ayah
pergi selama ini? Apa Ayah tidak sayang sama Caca? Caca sayang Ayah.. Lirih
Caca.
Air matanya terus berjatuhan,
pandangannya mulai buram dan akhirnya terlelap dalam tangisan rindu kepada sang
Ayah yang membawanya ke alam bawah sadar.
Matahari mulai naik ke peraduan,
menyingsingkan Bulan yang telah menemani malam. Sayup-sayup cahaya matahari
menerobos celah-celah kaca. Pertanda pagi telah datang membayang. Menyadarkan
orang-orang bumi untuk segera beraktivitas kembali. Kecuali Caca. Ia masih tak
mau membuka kelopak matanya. Meskipun jam weker di samping tempat tidurnya
telah menunjukkan pukul 06.00 AM yang terus berbunyi membangunkan sang pemilik
benda tersebut. Hingga Bunda pun bergegas membangunkan putri kesayangannya yang
mulai menginjak remaja.
“Ca, ayo bangun sayang? Kamu ndak sekolah nak?” ucap sang
Bunda membangunkan sang putri.
“Hemmm.. Iya Bun, 5 menit lagi..” elak Caca.
“ Ini sudah jam 6 lebih sayang, nanti kamu terlambat ke
sekolah. Kamu tahu kan Jakarta macetnya seperti apa, apalagi di jam-jam sibuk
begini. Kamu mau dihukum lagi? Kamu mau Bunda dipanggil guru Bk lagi gara-gara
kamu sering terlambat?” Nasehat sang Bunda.
“Hemmmm..” singkat Caca yang masih tak mau beranjak dari
tempat tidurnya, meskipun hanya 1cm.
“ya ampun.. anak ini..” keluh Bunda.
Tiba-tiba sang kakak datang dari balik pintu..
“Belum bangun juga, Bun?”tanya Rio.
“Belum yo, Bunda jadi bingung harus bagaimana lagi bangunin
adik kamu ini.”keluh Bunda
“Biarin aja Bun, Biarin dia milih tidur.Paling-paling bulan
ini kartu ATMnya kosong”. Sandiwara Rio.
“Hahh.. apa??? Jangan dong kak, pleaseeee.. ya ya.. katanya
Caca adik kesayangannya kakak? Masak kakak mau ngelihat adik kakak tercantik
ini harus puasa belanja. Huft.” Merengek pada sang kakak.
“Makanya bangun.. kasihan kan Bunda. Ya udah kakak berangkat
dulu, hari ini sampai 6 bulan ke depan, kakak ndak bisa pulang. Kakak dapat
tugas di Poso untuk mengamankan Perang disana.”ucap Rio.
“What????kenapa kakak ndak bilang? Kakak jahat banget sih,
apa ndak bisa di undur 1 hari aja? Besok kan ulang tahun Caca kak?” lirih Caca
sambil menundukkan kepala.
“Kan kakak harus menjalankan kewajiban sayang. Inilah jalan
kakak untuk menjadi Abdi Negara seperti cita-cita Ayah dulu yang ingin anaknya
menjadi seorang TNI seperti beliau.”Jelas Rio
“Abdi Negara ya?? Trus kalau kakak kenapa-kenapa? Apa yang
Negara berikan? Lihat kak, lihat. Apa yang sudah Negara berikan pada Ayah??
Jasadnya saja Negara tak mampu mengembalikan. Haha lucu sekali ya Negara ini.”ucap
Caca.
Mendengar perkataan-perkataan
adik yang paling ia sayangi itu, Rio hanya bisa menunduk. Hatinya bagai
tersambar petir. Bagaimana bisa adiknya berbicara seperti itu. Hingga beberapa
detik, terjadi keheningan di dalam kamar tersebut. Sang Bunda hanya bisa
menatap tajam dan perlahan air matanya mengalir dihadapan putrinya itu.
Akhirnya Rio yang semula hanya berdiam, kini berani mengakat kepalanya, dan
membuka suara.
“Seorang Abdi Negara adalah tiang terkokoh untuk menjaga
kedaulatan Negara dan menjaga Integrasi Nasional, supaya Negara ini tidak mudah
dihancurkan oleh kelompok”ekstrem diluar sana. Jangan pernah bertanya apa yang
telah Negara berikan, tapi bertanyalah apa yang telah kamu berikan kepada
Negara. Karena setiap warga negara harus melaksanakan hak dan kewajiban secara
seimbang. Jangan hanya menuntut hak, sedangkan kamu tidak mengerjakan kewajibanmu.
Menjadi seorang prajurit adalah sebuah
kerahasiaan, dimanapun dan kapanpun berada membawa selendang merang putih yang
telah tertanam kuat didasar sanubari. Untuk itu dari awal menjadi seorang
prajurit harus siap menerima konsekuensi bahwasanya prajurit adalah milik
Negara, dan apapun yang terjadi demi Negara. Untuk itu kakak akan pertaruhkan
Jiwa dan Raga ini untuk Indonesia, untuk masyarakat. Itulah yang selalu Ayah
ajarkan kepada kakak.” Nasehat Rio dengan tegas.
Sontak ucapan Rio mampu menyadarkan
Caca, sedangkan sang Bunda langsung mengangkat kepalanya dan senyum simpul
penuh bangga itu terlukis diwajahnya.
“Maaf kak, Maaf Bun.. Caca yang salah..”tangis Caca
“Iya sayang..” Jawab Rio dan Bunda bebarengan, seraya
memeluk gadis kecil yang masih labil jalan pemikirannya.
“Udah.. udah.. kok malah seperti adegan film gini. Jangan
sedih lagi ya malaikat-malaikatku. Sebentar lagi udah harus sampai di Kantor
nih. Jagain Bunda ya Ca, jangan nangis lagi, jadi anak yang pinter. Awas aja
kalau masih buat Bunda nangis kayak tadi lagi, tuh ATM beneran kosong lo.
Hehe”ucap Rio
“Iya, Iya kakak bawel.. O iya, Kak..”
“Ada apa lagi Ca?”
“Lihat deh jam itu, udah jam 06.45 WIB. Caca bolos sekolah
dong?”
“ O iya, ya Ampun.. Kamu sihh..”
“Kok aku?? Ya Kakak dong, kan kakak yang ceramah terus
daritadi.” Elak caca.
“Udah, Udah jangan bertengkar terus. Udah besar juga. Untuk
kamu Ca, ini terakhir kalinya Bunda izinin kamu ndak masuk sekolah. Tapi inget,
Hari ini Bunda akan panggilkan guru bimbel buat kamu. Sehari penuh dan kamu
tidak boleh menolak.”
“Hemmm.. iyaa’’ bun..” pasrah caca.
“Ya udah, aku berangkat dulu ya bun, ca. Doakan semoga aku
disana baik-baik saja, dan pulang dengan keadaan selamat, Assalamualaikum” ucap
Rio seraya mencium punggung kanan sang bunda.
“Waalaikumsalam, hati-hati ya, jaga diri baik-baik disana”.
Pinta sang bunda.
Maaf ya guys, cuman dikit.. lagi gak punya inspirasi nih. tetep tunggu kelanjutannya yaaa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar