Dedikasi Tanpa Tepi
(By : Uswatun Khasanah)
Denting jarum pada benda bundar
disudut kamar itu membangunkanku, menyadarkan ragaku untuk segera membuka
perlahan dua bola mata yg tersusun sejajar dibawah kening. Dengan cepat,
logikaku memutar kembali apa yang tengah terjadi.
“Prakkkk!!” seketika benda bening yang dibawa wanita paruh
baya itu terjatuh tatkala seseorang menelponnya diseberang sana. Badannya
terhuyung jatuh ke lantai.
“Bundaaa” teriak seorang gadis kecil dari balik pintu,
berlari dan segera memeluk seseorang yang dipanggilnya Bunda. Seseorang yang
begitu ia sayangi sekarang tengah tak sadarkan diri di lantai.
“Bunda, bunda kenapa? Apa yang terjadi Bunda? Bunda bangun..
Tolong tolong!!” isaknya.
Suara kecilnya tak mampu membuat
orang-orang yang ada diseberang tembok-tembok besar itu mendengarnya. Ia masih
berkutat dengan Bundanya, apakah dia akan meninggalkan Bundanya sendiri dalam
keadaan seperti ini untuk meminta bantuan atau tetap menunggu Bundanya
tersadar? Dalam fikiran yang terus berkecamuk, langkah-langkah kaki terus
terdengar, semakin dekat dan dekat, pandangannya beralih menuju pintu yang ada
dibelakang punggungnya.
“Bun, aku pulang..” ucap seorang pemuda dengan menenteng tas
ransel dibelakangnya.
“Kakak..!!!” sambil berlari menghampiri pemuda itu.
“Kamu kenapa Ca?” tanya pemuda itu kepada adik kecilnya yang
sedang menangis dihadapannya.
“Bunda kak, bunda..” isak Caca.
“Bunda....” ucapnya sambil terus mengedarkan pandangannya ke
sudut ruangan.
“Bu.. Bundaa.” Kata Rio berlari menghampiri sang bunda yang
tergeletak tak berdaya, membopongnya menuju kamar sang Bunda. Sambil terus
menangis Caca mengikuti langkah kakaknya.
Setelah membaringkan Bunda ke
ranjang, Rio membalikkan badan mencari dimana suara tangis itu berasal.
Ternyata Rio menemukan adik kesayangannya didepan kamar ibundanya. Wajah cantiknya
itu perlahan diangkat sang kakak yang semula bersembunyi dibalik kedua kakinya
yang ditekuk.
“Tidak perlu nangis terus, Ca. Bunda sudah baik-baik saja.”
Tenang Rio pada adiknya.
Dengan hanya anggukan kepala pertanda gadis kecil itu
mengerti dan segera langsung memeluk kakaknya bermaksud memperoleh ketenangan
disana.
Keheningan mulai menyapa didalam rumah besar berlantai dua
itu. Seketika mereka tersadar kala...
“ yah, ayah, ayahhhhhhhh”jeritan sang Bunda yang terbangun
dari tak sadarkan diri. Mendengar suara sang malaikatnya itu, Rio dan Caca
segera berlari masuk kedalam kamar.
“Bunda kenapa?” tanya Rio dengan raut wajah khawatir dan
penasaran kepada bundanya.
“ Ayah Rio, ayah..” Bola mata itu seketika mengeluarkan cairan
bening yang sudah bersiap untuk keluar, kantung matanya sudah tak mampu
membendung air mata yang sejak tadi ingin dikeluarkan.
“Ayah kenapa, Bun?? Ayah baik-baik saja kan? Ayah sehat kan?
Tanya Rio bertubi-tubi kepada Bundanya.
Petanyaan Rio seperti memberondong
hati bundanya, layaknya berondongan pistol yang sengaja ditembakkan ke relung
hati sang tersangka. Dengan tubuh gemetar dan suara parau, akhirnya Bunda mulai
menceritakan apa yang baru diketahuinya.
Thanks guys, pantengin terus ya. Nantikan kelanjutannya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar