
Kelas
: XII-IPS 1
Kelompok
: 1
Pembimbing
: Bapak Mulyono
Nama
: 1. Amin Nugraha P. (01)
2.
Eka Prasetya P. (02)
3.
Raheni Agustina (03)
4.
Uswatun Khasanah (04)
5.
Naurotul Haromaini (05)
6.
Prakasa Wisnu D. (06)
7.
Kurniawan Tri A. (07)
DINAS
PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1
SUMBERREJO
TAHUN
2013/2014
KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Sejarah mengenai “Perang
Yang ada di Timur Tengah”ini dengan baik sesuai dengan waktu yang telah di
tentukan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Dan
dengan adanya makalah seperti ini,penyusunan yang kami laksanakan dapat
tercatat dengan rapi dan dapat kita pelajari kembali pada kesempatan yang lain
untuk kepentingan proses belajar kita terutama dalam bidang Ilmu Sejarah.
Bersama dengan ini kami juga menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tugas ini,
terutama kepada Bapak Mulyono yang telah memberikan banyak saran, petunjuk dan
dorongan dalam melaksanakan tugas ini, juga kepada teman-teman semua. Semoga
segala yang telah kita kerjakan dapat bermanfaat bagi semua.
Dalam
penyusunan makalah ini tentu jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik
dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini dan
untuk pelajaran bagi kita semua dalam pembuatan makalah-makalah yang lain di
masa mendatang.Kami juga memohon
maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan pengetikan dan
kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.
Bojonegoro,21 Agustus 2014
Penyusun
Sejarah Perang Enam Hari di Timur Tengah
Perang Enam Hari (bahasa Ibrani:
מלחמת ששת הימים Milkhemet Sheshet HaYamim, bahasa Arab:
حرب الأيام الستة ħarb al-'ayyam as-sittah), juga dikenali
sebagai Perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara Israel menghadapi gabungan tiga
negara Arab, yaitu Mesir, Yordania,
dan Suriah,
dan ketiganya juga mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan danAljazair.
Perang tersebut berlangsung selama 132 jam 30 menit (kurang dari enam hari),
hanya di front Suriah saja perang berlangsung enam hari penuh.
Pada bulan Mei tahun 1967, Mesir mengusir United Nations Emergency Force (UNEF)
dariSemenanjung
Sinai; ketika itu UNEF telah berpatroli disana sejak
tahun 1957 (yang
disebabkan oleh invasi atas Semenanjung Sinai oleh
Israel tahun 1956).
Mesir mempersiapkan 1.000 tank dan 100.000 pasukan di perbatasan dan
memblokade Selat Tiran (pintu
masuk menuju Teluk Aqaba)
terhadap kapal Israel dan memanggil negara-negara Arab lainnya untuk bersatu
melawan Israel. Pada tanggal 5 Juni 1967, Israel melancarkan serangan
terhadap pangkalan angkatan udara Mesir karena takut akan terjadinya invasi
oleh Mesir.[3] Yordania
lalu menyerang Yerusalem Barat
dan Netanya.[4][5][6] Pada
akhir perang, Israel merebut Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat,
danDataran
Tinggi Golan. Hasil dari perang ini mempengaruhi geopolitik
kawasan Timur Tengah sampai hari ini.
Akibat Perang Arab-Israel tahun 1948 dan 1956
Nasser (Mesir), didukung oleh negara-negara
Arab lainnya dengan tegas menendang Israel masuk ke laut. Gambar pra 1967.
Surat kabar Al-Farida, Libanon.
Perang ini disebabkan oleh ketidakpuasan orang Arab
atas kekalahannya dalam Perang Arab-Israel tahun 1948 dan 1956. Pada saat terjadinya Krisis Suez tahun
1956, walaupun Mesir kalah,
namun mereka menang dalam hal politik. Tekanan diplomatik dari Amerika Serikat dan Uni Sovietmemaksa Israel untuk mundur dari Semenanjung Sinai.
Setelah perang tahun 1956, Mesir setuju atas keberadaan pasukan perdamaian PBB
di Sinai, UNEF,
untuk memastikan kawasan tersebut bebas tentara dan juga menghalangi gerilyawan
yang akan menyebrang ke Israel, sehingga perdamaian antara Mesir dan Israel
terwujud untuk sesaat.
Perang tahun 1956 menyebabkan kembalinya keseimbangan
yang tidak pasti, karena tidak ada penyelesaian atau resolusi tetap mengenai
masalah-masalah di wilayah itu. Pada masa itu, tidak ada negara-negara Arab
yang mengakui kedaulatan Israel. Suriah yang bersekutu dengan blok Soviet mulai
mengirim gerilyawan ke Israel pada awal tahun 1960-an sebagai bagian dari
"perang pembebasan rakyat", dalam rangka untuk mencegah perlawanan
domestik terhadap partai Ba'ath.[7] Selain
itu, negara-negara Arab juga mendorong gerilyawan Palestina menyerang
sasaran-sasaran Israel.
Pengangkut Air Nasional Israel
Pada tahun 1964, Israel telah mulai mengalihkan
air dari Sungai Yordan untuk Pengangkut Air Nasional Israelnya.
Pada tahun berikutnya, negara-negara Arab mulai membuat "Rencana
Pengalihan Air". Apabila rencana tersebut selesai, maka akan mengalihkan
air dari Sungai Banias agar tidak memasuki Israel dan Danau Galilea melainkan
mengalir ke dalam suatu bendungan di Mukhaiba untuk Yordania dan Suriah, serta
mengalihkan air dari Hasbani ke
dalam Sungai Litani di Lebanon.
Hal ini akan mengurangi kapasitas air yang masuk ke Pengangkut Air Nasional
Israel sebanyak 35%, dan persediaan air Israel sekitar 11%.
Angkatan Bersenjata Israel menyerang
pekerjaan pengalihan tersebut di Suriah pada bulanMaret, Mei, dan Agustus tahun 1965, sebuah rangkaian kekerasan yang
berlanjut di sepanjang perbatasan, yang berhubungan langsung dengan
peristiwa-peristiwa lainnya yang nantinya akan memulai perang. [8]
Israel dan Yordania: Peristiwa Samu
Pada tanggal 12 November 1966, seorang Polisi Perbatasan Israel menginjak
ranjau yang menyebabkan terbunuhnya 3 tentara dan melukai 6 orang lainnya.
Pihak Israel percaya bahwa ranjau tersebut telah ditanam oleh teroris Es Samu di Tepi Barat.
Pada pagi tanggal 13 November 1966, Raja Hussein,
yang sudah tiga tahun mengadakan pertemuan rahasia dengan Abba Eban dan Golda Meiruntuk
membahas keamanan perbatasan dan perdamaian, menerima pesan yang tidak diminta
dari Israel yang menyatakan bahwa Israel tidak mempunyai niat untuk menyerang
Yordania.[9] Walaupun
begitu, pada pukul 5:30 pagi, Hussein menyatakan bahwa "dengan alasan
'balas dendam terhadap aktivitas teroris dari P.L.O.', Pasukan Israel menyerang Es
Samu, sebuah desa Yordania yang mempunyai 4.000 penduduk, seluruhnya merupakan
pengungsi dari Palestina, yang dituduh Israel menyembunyikan teroris dari
Suriah".[10]
Dalam "Operasi Shredder", operasi tentara
Israel terbesar sejak tahun 1956 sampai terjadinyaInvasi
Lebanon 2006, pasukan sekitar 3.000-4.000 tentara yang didukung
tank dan pesawat tempur ini dibagi kedalam pasukan cadangan, yang tetap tinggal
di bagian perbatasan Israel, dan dua pasukan penyerang, yang menyebrang ke Tepi
Barat yang dikuasai Yordania.
Pasukan yang lebih besar, delapan tank Centurion diikuti
dengan 400 pasukan lintas udarayang dimuatkan
kedalam 40 truk dan 60 insinyur militer dalam 10 truk menuju kearah Samu,
sementara sejumlah pasukan kecil yang terdiri daripada tiga tank dan 100
pasukan payung terjun dan insinyur militer yang menuju ke dua desa yang lebih
kecil, Kirbet El-Markas dan Kirbet Jimba, dalam satu misi untuk mengebom
rumah-rumah. Di Samu, tentara Israel menghancurkan satu-satunya klinik di desa,
satu sekolah perempuan, pejabat pos, perpustakaan, satu kedai kopi dan sekitar
140 buah rumah. Laporan berbeda mengenai peristiwa ini telah dibuat yang
merujuk kepada buku Terrence Prittie,Eshkol: The Man and the Nation dimana
menyatakan 50 rumah telah diledakan tetapi penghuni-penghuni rumah tersebut
telah dipindahkan beberapa jam sebelumnya. Batalion Infantri tentara Yordania
ke-48, yang diarahkan oleh Mayor Asad Ghanma, bergerak menuju ke arah tentara
Israel di barat laut Samu dan dua kompeni yang bergerak menuju timur laut telah
diserang oleh Israel, ketika satu pleton Yordania yang bersenjatakan dua meriam 106 mm memasuki Samu. Dalam
pertempuran, tiga orang sipil Yordania dan 15 tentara tewas, 54 tentara lain
dan 96 orang sipil cedera. Letnan kolonel batalion pasukan lintas udara Israel,
Kolonel Yoav Shaham, tewas dan sepuluh tentara lainnya cedera. Merujuk kepada
data pemerintah Israel, lima puluh tentara Jordan tewas namun jumlah sebenarnya
telah dirahasiakan demi menjaga moral dan keyakinan pada rezim Raja Hussein.
Dua hari kemudian dalam satu memo kepada Presiden Johnson,
asisten khususnya Walt Rostow menulis
"tindakan balas dendam bukan inti kasus ini. Serangan 3000 orang dengan
tank dan pesawat-pesawat ini terlalu berlebihan terhadap provokasi yang
terjadi, dan diarahkan kepada sasaran yang salah" dan kemudian
menggambarkan kerusakan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan
Israel: "Mereka telah memusnahkan sistem kerjasama yang bagus diantara
Hussein dan pihak Israel... Mereka telah menghianati Hussein. Kita telah
mengeluarkan $500 juta untuk membinanya sebagai salah satu faktor kestabilan
pada perbatasan terpanjang Israel dan terhadap Suriah dan Irak. Serangan Israelmeningkatkan tekanan terhadap
Hussein untuk menyerang balik, tidak hanya dari negara-negara Arabyang
radikal dan orang Palestina di
Yordania, tetapi juga dari angkatan darat, yang merupakan sumber dukungan
utamanya, dan mungkin sekarang memaksa untuk mendapatkan kesempatan membalas
kekalahan pada hari Minggu... Israel telah merusak kemajuan menuju adanya
akomodasi dengan orang-orang Arab. Mereka mungkin memperlihatkan pada Suriah
yang merupakan biang keladi, bahwa Israel tidak berani menyerang
Suriah yang dilindungi oleh Uni Soviet,
namun boleh menyerang Yordania yang didukung oleh Amerika Serikat tanpa
ada hukuman."[14]
Dalam menghadapi kritik dari orang Yordania, Palestina
dan tetangga Arab lainnya karena kegagalannya dalam mempertahankan Samu,
Hussein memerintahkan untuk menjalankan mobilisasi nasional pada tanggal 20 November 1966.[15] Pada
tanggal 25 November 1966, Dewan
Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 228 dan menyesali
"kehilangan nyawa dan kerusakan besar menyebabkan terjadinya tindakan
Israel pada tanggal 13 November 1966", mengancam "Israel
karena jumlah pasukan berskala besar yang melanggar Piagam PBB dan
Perjanjian Perdamaian antara Israel dan Yordania" dan menekan "kepada
Israel bahwa tindakan balas dengan mengirim tentara tidak dapat ditolerir dan
jika mereka mengulangi hal tersebut, Dewan Keamanan PBB akan mempertimbangkan
langkah-langkah efektif seperti yang dibayangkan di dalam Piagam untuk memastikan
pencegahan terhadap pengulangan tindakan yang sedemikian."[16]
Dalam satu telegram untuk Departemen Negara Bagian pada
tanggal 18 Mei 1967, Duta besarAmerika Serikat di Amman, Findley Burns, telah melaporkan
bahwa Hussein telah menjelaskan opininya dalam sebuah perbincangan sehari
sebelumnya bahwa
|
“
|
"Yordania
adalah salah satu sasaran dalam jangka pendek dan dalam pandangan Hussein, ia
pasti berlaku dalam jangka panjang.... Israel mempunyai kebutuhan militer dan
ekonomi yang panjang serta tradisi agama dan aspirasi sejarah yang tertentu
dimana pada pandangan Hussein mereka masih belum puas. Satu-satunya cara agar
keinginan mereka tercapai adalah dengan mengubah status Tebing Barat,
Yordania. Oleh sebab itu pandangan Hussein adalah hal yang bagi Israel
merupakan kesempatan untuk mengambil kelebihan dari suatu peluang dan memaksa
situasi apapun yang membuat mereka lebih dekat kepada keinginan mereka.
Hussein mengkhawatirkan bahwa keadaan pada saat itu yang memberi kesempatan
terhadap teroris, penyelundupan dan perpecahan diantara orang Arab yang
sangat jelas," dan mengenang masa “Samu”.
|
”
|
|
"Hussein
menyatakan bahwa jika Israel melancarkan serangan serangan berskala-Samu
terhadap Yordania, ia tidak memiliki pilihan lain selain untuk membalas
serangan mereka atau ia akan menghadapi pemberontakan di negaranya. Jika
Yordania menyerang balas, tanya Hussein, apakah ini akan memberikan Israel
suatu kesempatan untuk merebut wilayah Yordania dan mempertahankan wilayah
Yordania yang direbut? Atau Israel mungkin akan menyerang dengan jenis
serangan tembak-dan-lari hanya untuk menaklukan dan mempertahankan wilayah
dalam perang sebelumnya. Hussein menyatakan bahwa ia tidak mungkin
mengeluarkan kemungkinan-kemungkinan ini dari perkiraannya dan mendesak kami
agar jangan berbuat demikian walaupun kita hanya ingin merasakannya."[17]
|
Israel dan Suriah
Selain mendukung serangan-serangan kepada Israel (yang
sering memasuki wilayah Yordania, sehingga mengesalkan Raja Hussein),
Suriah pun mulai menembaki komunitas rakyat Israel di timurDanau Galilea dari
posisinya di Dataran
Tinggi Golan, sebagai bagian dari perselisihan atas penguasaanZona
Demiliterisasi, yaitu tanah kecil yang diklaim oleh Israel dan
Suriah. [18]
Pada tahun 1966, Mesir dan Suriah menandatangani
persekutuan militer, yang mana mereka akan saling membantu bila salah satunya
diserang pihak lain. Menurut Indar Jit Rikhye (penasihat militer PBB), Menteri
Luar Negeri Mesir Mahmoud Riad mengatakan
bahwa Mesir telah dibujuk oleh Uni Soviet untuk
menjalin pakta pertahanan tersebut berdasarkan 2 alasan: untuk mengurangi
peluang terjadinya serangan penghukuman terhadap Suriah oleh Israel, dan untuk
membawa Suriah ke dalam pengaruh Presiden Mesir Gamal Abdel
Nasser yang lebih moderat
Laporan untuk Departemen Luar Negeri dari Kedutaan
Besar Inggris di Damaskus,
perihal konflik Israel dan Suriah tanggal 7 April 1967 mengenai pengelolaan
kawasan perselisihan.
Selama kunjungan ke London pada bulan Februari tahun 1967, Menteri Luar Negeri IsraelAbba Eban menjelaskan
kepada hadirin tentang "harapan dan kegelisahan" Israel, bahwa
walaupunLibanon, Yordania dan
Republik Persatuan Arab (nama resmi Mesir sampai 1971) sepertinya berkeputusan
untuk berkonfrontasi aktif melawan Israel, masih perlu dilihat apakah Suriah
dapat mengekang diri sehingga permusuhan dapat dibatasi hanya sampai tingkatan
retorik.
Pada tanggal 7 April 1967, suatu peristiwa kecil di
perbatasan telah menyebabkan satu pertempuran udara berskala besar di Dataran
Tinggi Golan yang mengakibatkan Suriah kehilangan enam MiG-21, yang dikalahkan oleh Dassault
Mirage III Angkatan Udara Israel, yang juga terbang
melintasi Damaskus. [21] Tank,
mortir, dan artileri digunakan oleh berbagai pihak sepanjang 47 mil (76 km)
perbatasan, yang dijelaskan sebagai "suatu perselisihan terhadap hak
pengerjaan tanah dalam Zona Demiliterisasi, di sebelah tenggara Danau Tiberias."
Pada awal minggu, Suriah telah 2 kali menyerang traktor Israel yang bekerja di
kawasan tersebut, dan ketika traktor itu kembali lagi di pagi hari
tanggal 7 April 1967, Suriah pun melepaskan tembakan.
Israel bereaksi dengan mengirim beberapa traktor lapis baja untuk terus
membajak, mengakibatkan berlanjutnya aksi tembak-menembak. Pesawat Israel
menjatuhkan bom-bom seberat 250 dan 500 kilogram ke
lokasi-lokasi Suriah. Suriah membalas dengan menembak pemukiman-pemukiman
Israel di perbatasan dan pesawat jet Israel membalas dengan mengebom desa
Sqoufiye yang menghancurkan 40 rumah. Pada pukul 15:19, tembakan Suriah mulai
jatuh di Kibbutz Gadot, sebanyak 300 tembakan telah jatuh dalam lingkungan kibbutz
dalam waktu 40 menit. [22] UNTSO mencoba untuk menyusun
gencatan senjata, namun Suriah menolak untuk bekerja sama jika pengerjaan tanah
Israel tidak dihentikan. [23]
Perdana
Menteri Israel, Levi Eshkol yang
berbicara dalam suatu pertemuan partai politik sayap kiri Mapai di Yerusalem pada
tanggal 11 Mei 1967, ia memberikan ancaman bahwa
Israel tidak ragu-ragu untuk mengirim serangan udara dalam skala yang sebesar
pada tanggal 7 April 1967 sebagai balasan terhadap
terorisme di perbatasan yang berkelanjutan. Pada hari yang sama, Gideon Rafael,
utusan Israel memberikan surat kepada Dewan
Keamanan PBB dan memberikan ancaman bahwa Israel akan
"bertindak untuk mempertahankan diri jika keadaan sekitar
memungkinkan". [24] Ditulis
dariTel Aviv pada
tanggal 12 Mei 1967, James Feron melaporkan bahwa
sebagian dari pemimpin Israel memutuskan untuk mengirim pasukan "yang kuat
tetapi dalam kurun waktu yang singkat dan pada kawasan yang terbatas"
terhadap Syria. Laporan itu juga mengutip "seorang pengamat yang
berwibawa" yang "berkata bahwa Republik Persatuan Arab, sekutu Suriah
yang paling dekat di dunia Arab, tidak akan ikut campur kecuali jika serangan
Israel meluas".[25]
Pada awal bulan Mei tahun 1967, kabinet Israel memberikan hak
atas serangan terbatas terhadap Suriah, namun permintaan semula oleh Rabin
untuk menyerang secara besar-besaran agar dapat menggulingkan rezim Ba'ath
ditentang oleh Eshkol. [26]
Peristiwa di perbatasan terus bertambah dan banyak
pemimpin Arab, termasuk para pemimpin politik dan militer, meminta untuk
mengakhiri tindakan Israel. Mesir, yang pada saat itu mencoba merebut kedudukan
yang utama di dalam dunia Arab di bawah Nasser, turut menyertai rencana-rencana
untuk memiliterisasi Sinai. Suriah mengutarakan pandangan-pandangan itu,
walaupun tidak siap untuk melakukan serangan tiba-tiba. Uni Soviet mendukung
keperluan militer negara-negara
Arabdengan aktif. Intelijen Soviet memberikan laporan yang
diberikan oleh Presiden Uni Soviet Nikolai Podgorny kepada
Wakil Presiden Mesir Anwar Sadat menyatakan
bahwa tentara Israel sedang berkumpul di sepanjang perbatasan Suriah. Pada tanggal 13 Mei,
laporan Soviet yang bohong itu didedahkan. Namun laporan palsu itu terungkap
pada tanggal 13 Mei 1967.[27] [28]Pada
bulan Meitahun 1967, Hafez Assad, selanjutnya
Menteri Pertahanan Suriah juga menyatakan: "Pasukan kami sekarang
seluruhnya siap tidak hanya untuk menahan agresi, namun untuk mengusahakan aksi
pembebasan, dan untuk menghancurkan kehadiran Zionis di tempat tinggal Arab.
Pasukan Suriah, dengan jarinya mencetuskan persatuan... Saya, sebagai seseorang
yang secara militer percaya bahwa waktunya telah tiba untuk memasuki
pertempuran pembinasaan."[29]
Mundurnya Pasukan Keamanan PBB
Pada pukul 10.00 malam 16 Mei,
Jendral Indar Jit Rikhye, letnan kolonel United Nations Emergency Force (UNEF),
menerima surat dari Jendral Mohammed Fawzy yang berbunyi:
|
“
|
Sebagai
informasi untuk anda, saya telah mengarahkan semua tentara Republik Persatuan
Arab agar mempersiapkan diri untuk melakukan tindakan terhadap Israel jika
negara itu melakukan tindakan yang agresif terhadap salah satu negara Arab.
Oleh karena instruksi ini, tentara kita kini bertumpu di perbatasan timur
kita di Sinai. Oleh sebab itu, agar pasukan keamanan PBB yang ditempatkan di
pos-pos pengawasan pada sepanjang perbatasan kita, saya meminta agar anda
memerintahkan pengunduran semua tentara dengan segera."
|
”
|
Rikhye berkata bahwa ia akan melaporkan kepada
sekretaris jendral untuk mendapat instruksi selanjutnya.
U Thant, Sekretaris
Jendral PBB, mencoba untuk berunding dengan Mesir, namun, pada
tanggal 18 Mei 1967, Menteri Luar Negeri Mesir
memberitahu negara-negara yang memiliki tentara UNEF bahwa misi UNEF di Mesir
dan Jalur Gaza telah
dibatalkan dan mereka harus pergi segera. Tentara Mesir juga menghalangi
tentara UNEF yang hendak memasuki pos mereka. India danYugoslavia memutuskan
untuk menarik semua tentara mereka dari UNEF, tanpa mengira keputusan U Thant.
Ketika semua ini berlangsung, U Thant memberi usulan bahwa UNEF pindah ke
perbatasan Israel, namun Israel menolak usulan ini. Wakil Mesir kemudian memberitahu
U Thant bahwa Mesir telah memutuskan untuk menghilangkan kehadiran UNEF di
Sinai dan Jalur Gaza, dan meminta agar diambil langkah untuk semua pasukan
darurat mundur dengan segera. Pada tanggal 19 Mei 1967, letnan kolonel UNEF menerima
perintah untuk mundur. [31][32] Gamal Abdel
Nasser, Presiden Mesir, kemudian memulai demiliterisasi
Sinai, dan mempersiapkan tank dan tentara di perbatasan antara Mesir dan
Israel.
Selat Tiran
Peta lokasi selat Tiran.
Pada tanggal 22 Mei 1967, Mesir mengumumkan bahwa mulai
dari tanggal 23 Mei 1967,Selat Tiran akan
ditutup untuk "semua kapal yang mengibarkan bendera Israel atau membawa
bahan-bahan strategik". [33] Nasser
juga menyatakan, "Tidak akan membiarkan bendera Israel melalui Teluk Aqaba
dengan alasan apapun." Kebanyakan perdagangan Israel
menggunakan pelabuhan-pelabuhan di kawasan Laut Tengah,
dan menurut John Quigley,
walaupun kapal-kapal dengan bendera Israel tidak pernah menggunakan pelabuhan
Eilat sejak dua tahun sebelum bulan Juni tahun 1967, minyak yang dibawa oleh
kapal-kapal dengan bendera yang bukan bendera Israel merupakan impor yang
sangat penting bagi Israel. [34] [35] Terdapat
ketidakjelasan tentang tingkat keketatan blokade tersebut, khususnya mengenai
apakah hal itu juga berlaku terhadap kapal-kapal yang bukan berbendera Israel.
Melihat hukum internasional, [36] Israel menganggap bahwa Mesir
telah menyalahi undang-undang jika negara tersebut menutup Selat Tiran,
dan menyatakan bahwa Israel akan menganggap blokade itu sebagai suatu casus
belli pada tahun 1957 ketika Israel mundur
dari Sinai dan Jalur Gaza.[37] Negara-negara
Arab memperdebatkan hak Israel untuk melewati Selat Tiran kerana mereka tidak
menandatangani Konvensi PBB tentang peraturan laut terutama
kerana Pasal 16(4) memberikan hak tersebut kepada Israel. [38] Dalam
perselisihan Majelis Umum
PBB, banyak negara mengemukakan alasan bahwa jika hukum
internasional memberikan hak untuk lewat kepada Israel, Israel tidak berhak
menyerang Mesir untuk menuntut haknya karena penutupan itu bukan merupakan
"serangan bersenjata" seperti yang tertulis dalam Pasal 51
dalam Piagam PBB.
Selain itu menurut profesor hukum internasional John Quigley,
berdasarkan doktrin proporsional, Israel berhak menggunakan kekuatan bersenjata
hanya seperlunya saja demi mengamankan haknya untuk lewat. [39]
Israel memperhatikan penutupan selat itu dengan serius
dan meminta Amerika Serikat danBritania Raya untuk
membuka Selat Tiran seperti
yang telah mereka jaminkan pada tahun 1957. Proposal Harold Wilson agar
adanya kekuatan laut internasional untuk memecahkan krisis ini disetujui
oleh Presiden
Johnson, akan tetapi ia tidak menerima banyak dukungan, dan
hanya Britania Raya danBelanda yang
menawarkan bantuan berupa kapal-kapal.
Mesir dan Yordania
Ideologi Nasser yang berbentuk pan-Arabisme telah
mendapat banyak dukungan di Yordania, sehingga pada tanggal 30 Mei 1967, Yordania menandatangani pakta
pertahanan dengan Mesir, oleh sebab itu, ia bergabung dengan persekutuan
militer antara Mesir dan Yordania. Presiden Nasser, dimana telah menyebut Raja
Hussein sebagai seorang "pesuruh imperialis", pada awal hari
menyatakan:
|
“
|
Tujuan
awal kita semua adalah kehancuran Israel. Orang-orang Arab ingin
berperang."[40]
|
”
|
Pada akhir bulan Mei tahun 1967, tentara Yordania telah
dikomando oleh Jendral Mesir, JendralAbdul Munim Riad. [41].
Pada hari yang sama, Nasser menyatakan:
|
“
|
Tentara
Mesir, Yordania, Suriah dan Lebanon sedang dalam keadaan tenang di perbatasan
Israel... untuk menghadapi tantangan, dimana di belakang kami berdiri tentaraIrak, Aljazair, Kuwait dan Sudan dan semua
negara Arab. Aksi ini akan mengherankan dunia. Hari ini mereka akan
mengetahui bahwa Arab telah siap untuk sebuah pertempuran, waktu yang
menentukan telah tiba. Kita telah mencapai panggung aksi serius dan bukan
deklarasi-deklarasi lainnya. Kami telah mencapai panggung aksi serius dan
tidak lagi mengeluarkan deklarasi."[42]
|
”
|
Israel telah meminta Yordania beberapa kali agar tidak
menyerang Israel. Namun, Hussein berada di ujung tanduk, dan berada di dalam
dilema, ia harus memilih apakah Yordania harus ikut dalam peperangan dan
menerima risiko dari balasan Israel, atau agar tetap netral dan mendapat risiko
akan terjadinya revolusi di Yordania. Jendral Sharif Zaid
Ben Shaker juga memperingati dalam konferensi pers bahwa
"Jika Yordania tidak ikut dalam perang ini, perang saudara akan
menghancurkan Yordania". [43]
Israel memiliki pandangannya sendiri berkaitan dengan
peranan Yordania dalam perang yang berdasarkan kekuasaan Yordania atas Tepi Barat.
Hal ini akan membuat tentara Arab yang hanya berjarak 17 kilometer dari pantai
Israel yang merupakan suatu titik perubahan dimana serangan tank akan membelah
Israel menjadi dua dalam waktu 2 jam. Walaupun jumlah tentara Yordania memiliki
arti bahwa Yordania mungkin tidak akan melaksanakan latihan militer karena
berhubungan dengan sejarah bahwa negara ini digunakan oleh negara Arab lainnya
sebagai panggung untuk operasi melawan Israel, oleh sebab itu, serangan
dari Tepi Barat akan
menjadi ancaman bagi Israel. Pada waktu yang sama, negara Arab yang tidak
berbatasan dengan Israel, seperti Irak, Sudan, Kuwait dan Aljazairmulai
menggerakkan tentara mereka.
Aliran menuju peperangan
|
“
|
Jika
Israel memulai agresi terhadap Suriah atau Mesir, pertempuran ini akan
menjadi hal yang umum... dan tujuan dasar kita adalah untuk menghancurkan
Israel."[44]
|
”
|
Menteri Luar Negeri Israel, Abba Eban menulis
dalam biografinya bahwa ia telah diinformasikan olehU Thant mengenai
janji Nasser untuk tidak menyerang Israel, sehingga Abba Eban telah mendapat
jaminan yang meyakinkan bahwa
|
“
|
”
|
Ditulis dari Mesir pada tanggal 4 Juni 1967, jurnalis New York Times James
Reston memiliki pandangan :
|
“
|
”
|
Sebuah tulisan ditulis pada tahun 2002 oleh jurnalis Mike Shuster
yang mengekspresikan pandangannya bahwa hal itu adalah hal yang lazim di Israel
sebelum perang tersebut karena Israel "dikepung oleh negara Arab. Mesir
dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser, nasionalis yang pasukannya merupakan pasukan
terkuat di Timur Tengah.
Suriah dipimpin oleh Partai Ba'ath yang
radikal, yang membahas permasalahan untuk mendorong Israel ke laut."[48] Hal
ini dilihat oleh Israel sebagai aksi provokasi oleh Nasser, termasuk penutupan
selat Tiran dan mobilisasi pasukan di Sinai, yang membuat rantai teanan ekonomi
dan militer, dan Amerika Serikat menunggu kesempatan baik karena
permasalahannya dalam Perang Vietnam,
tokoh militer dan politik Israel merasa bahwa dengan "melakukan tindakan
militer sebelum diserang" bukan hanya lebih disukai, tetapi transformatif.
Diplomasi dan Taksiran Intelijen
Kabinet Israel melakukan sidang pada tanggal 23 Mei 1967 dan membuat keputusan untuk
melancarkan serangan lebih dahulu jika Selat Tiran tidak
dibuka sampai tanggal 25 Mei 1967. Setelah suatu pendekatan US
Undersecretary of State Eugene Rostow untuk
melakukan perundingan sebagai penyelesaian masalah tanpa peperangan, dan Israel
setuju untuk menunda serangannya
Taksiran CIA yang
baru dilaporkan membantah perkiraan pesimistik Israel mengenai militer Arab.
Johnson, bersama Menteri Pertahanan McNamara dan petugas senior lainnya,
mendengarkan Abba Eban pada tanggal 26 Mei 1967.
Pada tanggal 26 Mei 1967, Menteri Luar Israel Abba Eban mendarat
di Washington
D.C.untuk memastikan Amerika tentang keputusannya dalam
peristiwa ini. Segera setelah Eban tiba, ia mendapat telegram dari pemerintah
Israel. Telegram itu menyatakan bahwa Israel telah mempelajari rencana Mesir
dan Suriah untuk melancarkan suatu peperangan pemusnahan atas Israel dalam
kurun waktu 48 jam yang akan datang. Eban bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Dean Rusk, Menteri Pertahanan Robert McNamara,
dan akhirnya dengan Presiden Johnson.
Pihak Amerika menyatakan bahwa sumber intelijen mereka tidak dapat mendukung
tuduhan tersebut, kedudukan Mesir di Sinai masih dalam posisi bertahan. Eban
meninggalkan Gedung Putih dengan bingung. Sejarahwan Michael Oren menerangkan
tentang reaksinya:
|
“
|
Eban
sangat bingung dan tidak yakin bahwa Nasser bertekad atau malah berniat
menyerang, dan sekarang nampak bahwa pihak Israel membesar-besarkan ancaman
Mesir - dan menampilkan kelemahan mereka - untuk menarik janji bahwa Presiden
yang dibatasi Kongres, tidak pernah membuatnya. Suatu tindakan tanpa ada
tanggung jawab... aneh...' adalah perkataan-perkataan yang ia kirim dalam
telegram , dimana ia juga menulis, 'kurang bijaksana, kurang tepat dan kurang
kepahaman taktik. Tidak ada siapapun yang benar mengenai hal itu.
|
”
|
Dalam satu ceramah pada tahun 2002, Oren berkata,
|
“
|
Johnson
duduk disekeliling penasehat-penasehatnya dan berkata, "Bagaimana jika
sumber intelijen mereka lebih baik daripada sumber intelijen kita?"
|
”
|
|
“
|
Kami
mendengar dari Israel, tetapi kami tidak akan mengesahkannya, bahwa wakii
anda di Timur Tengah, Mesir, sedang merancang untuk menyerang Israel dalam
kurun waktu 48 jam yang akan datang. Jika anda tidak mau memulai krisis
global, halangi mereka daripada berbuat demikian.
|
”
|
Pada pukul 2:30 pagi tanggal 27 Mei 1967, duta besar Uni Soviet di
Mesir, Dimitri
Pojidaev mengetuk pintu Nasser dan membacakan satu surat
pribadi dari Kosygin dimana berkata,
|
“
|
Kami
tidak mau Mesir disalahkan sebagai biang keladi atas suatu peperangan di
Timur Tengah. Jika anda melancarkan serangan itu, kami tidak dapat mendukung
anda.
|
”
|
Abdel Hakim Amer berunding
dengan rekannya di Kremlin, dan mereka telah mengesahkan pesanan Kosygin.
Karena putus harapan, Amer memberitahu letnan kolonel angkatan udara Mesir,
Mayor Jendral Mahmud Sidqi,
bahwa operasi itu dibatalkan." [51] Menurut
Wakil Presiden Mesir, Hussein al Shafei, segera Nasser mengetahui apa yang Amer
rencanakan sehingga ia membatalkan operasi tersebut. [52]
Analisa CIA mengenai Perang Arab-Israel 1967.
Pada tanggal 30 Mei 1967, Nasser membalas permintaan
Johnson sebelas hari lebih awal dan setuju untuk mengirim Wakil Presiden
Mesir, Zakkariya
Muhieddin, ke Washington D.C. pada
tanggal7 Juni 1967 untuk mengeksplorasi suatu
penyelesaian diplomatik dalam "pembukaan Gedung Putihyang
terlihat". [53] Menteri
Luar Negeri Dean Rusk sangat
kecewa dengan serangan yang dilakukan Israel lebih dulu pada tanggal 5 Juni 1967 karena Amerika Serikat
berusaha untuk mendapat penyelesaian diplomatik jika memungkinkan. [54] Sejarahwan Michael Oren telah
mencatat bahwa Rusk "marah seperti neraka" dan Johnson kemudian
menulis bahwa "Saya tidak dapat menyembunyikan rasa kekesalan saya bahwa
Israel telah memutuskan untuk melakukan apa yang telah dibuatnya". [55]
Di kalangan ahli politik Israel, diputuskan bahwa jika
Amerika Serikat tidak bertindak, dan jika PBBtidak dapat bertindak, maka
Israel akan bertindak. Pada tanggal 1 Juni 1967, Moshe Dayan dilantik
sebagai Menteri Pertahanan Israel, dan pada
tanggal 3 Juni 1967, administrasi Johnson memberikan
suatu pernyataan yang meragukan bahwa Israel kembali dalam persiapan perang.
Serangan Israel terhadap Mesir tanggal 5 Juni 1967 bermula dengan apa yang
disebut sebagai Perang Enam Hari.Martin van
Creveld menerangkan dorongan menuju peperangan:
|
“
|
"...konsep
bagi 'perbatasan yang dapat dipertahankan' bukanlah bagian dari kamus
Angkatan Bersenjata Israel sendiri. Siapapun yang melihat kepada falsafah
militer pada saat itu akan melakukannya dalam tekanan. Sebagai gantinya,
letnan kolonel Israel berdasarkan pemikiran mereka terutama pada saat perang
1948, kemenangan mereka pada tahun 1956 atas Mesir. Apabila krisis
tahun 1967 meletus, mereka yakin akan kemampuan mereka untuk memenangkan
peperangan dengan 'tegas, cepat and bergaya', dimana satu dari anggota
mereka, Jendral Haim Bar Lev,
meletakkannya, dan menekan pemerintahan mereka untuk memulai peperangan
secepat mungkin". [56]
|
”
|
Tentara yang bertempur
Terdapat sekitar 100.000 dari 160.000 pasukan Mesir di
Sinai, termasuk semua dari 7 divisi (4 infantri, 2 lapis baja dan 1
dimaknisasikan), juga 4 infantri indenpenden dan 4 brigadir lapis baja
indenpenden. Tidak kurang 3 dari mereka adalah veteran Mesir yang melakukan
intervensi di Yamanpada
saat Perang
Saudara Yaman dan 3 lainnya adalah cadangan. Pasukan ini
memiliki 950 tank, 1.100 APC dan lebih dari 1.000 artileri.[57] Pada
waktu yang sama beberapa tentara Mesir (15.000 - 20.000) masih bertempur di
Yemen.[58][59][60][61] 2
perasaan Nasser yang bertentangan tentang keinginannya digambarkan dalam
perintahnya terhadap militer. Pegawai jenderal mengganti rencana operasional 4
kali pada bulan Mei tahun 1967, yang tiap perubahan harus
dilakukan kembali distribusi pasukan, dengan korban yangtidak dapat dihindarkan
baik tentara maupun peralatan. Pada saat menuju akhir Mei, Nasser akhirnya
melarang pegawai jendral untuk melanjutkan rencana Qahir("kemenangan"),
dimana memanggil layar infantri ringan dalam fortifikasi selanjutnya dengan
bagian terbesar pasukan menahan balik untuk menahan serangan balik
besar-besaran dan melawan pasukan utama Israel ketika diidentifikasi, dan
memerintahkan pertahanan lebih lanjut atas Sinai.[62] Ia
melanjutkan mengambil aksi untuk meningkatkan jumlah mobilisasi Mesir, Suriah
dan Yordania, untuk membuat tekanan terhadap Israel.
Pasukan Israel memiliki pasukan, termasuk pasukan
cadangan, yang berjumlah 264.000, walaupun begitu jumlah ini tidak dapat
ditopang, apalagi pasukan cadangan sangat vital untuk keselamatan rakyat sipil.[65] James
Reston menulis di koran New York Times pada tanggal 23 Mei1967 mencatat, "Dalam
kedisiplinan, pelatihan, moral, peralatan dan kemampuan jendral Mesir dan
pasukan lainnya, tanpa bantuan langsung dari Uni Soviet, tidak ada apa-apanya
dibanding Israel... Meskipun dengan 50.000 pasukan dan dengan jendral
terbaiknya dan pasukan udaranya di Yaman, dia tidak akan bisa untuk melakukan
jalannya di negara kecil dan primitif itu, dan usahanya untuk menolong
pemberontak Kongo adalah sebuah kegagalan."[66]
Pada sore hari tanggal 1 Juni 1967, Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan memanggil
jendral Yitzhak Rabin dan
Jendral Brigadir Komando Selatan Yeshayahu Gavish untuk menghadiri rencana
melawan Mesir. Rabin telah mencampur rencana dimana komando selatan akan
bertempur dalam perjalanannya menuju Jalur Gaza dan
lalu menahan teritori dan orang-orangnya sebagai sandra hingga Mesir setuju
untuk membuka kembali Selat Tiran, dimana Gavish memiliki rencana luas untuk
memusnahkan pasukan Mesir di Sinai. Rabin lebih menyukai rencana Gavish, dimana
disetujui oleh Dayan dengan hati-hati bahwa serangan serempak melawan Suriah
harus dihindari.[67]
Pertempuran Serangan udara
Pergerakan Israel yang pertama dan yang paling penting
adalah serangan pre-emptif terhadap Angkatan Udara Mesir. Angkatan Udara Mesir
merupakan tentara udara termodern dan terbesar di kalangan Angkatan udara Arab,
memiliki kurang lebih 450 pesawat tempur, dan semuanya merupakan buatan Uni Soviet dan
baru.
Salah satu hal yang dikhawatirkan oleh Israel adalah
30 buah pesawat pengebom sederhana Tu-16 Badger,
yang dapat memberikan kerusakan besar kepada pemukiman penduduk dan markas
militer Israel. [68] Pada
tanggal 5 Juni 1967 pukul 7:45 waktu Israel,
sirine pertahanan rakyat sipil dibunyikan diseluruh Israel, Angkatan Udara
Israel melancarkan Operasi Fokus (Moked).
Semua 200 jet kecuali 12 yang boleh beroperasi [69] telah
meninggalkan kawasan udara Israel dalam satu serangan besar terhadap bandara
militer Mesir. [70] Infrastruktur
pertahanan Mesir memang lemah, dan tidak ada lapangan udara militer yang
dilengkapi dengan bunker untuk mempertahankan pesawat terbang angkatan udara
Mesir dalam satu serangan. Pesawat udara Israel bergerak menuju Laut Tengahsebelum
kembali ke Mesir. Pada saat itu, pihak Mesir mengganggu pertahanan mereka
sendiri dengan menutup seluruh pertahanan udara secara efektif, karena mereka
takut jika pemberontak Mesir akan menembak jatuh pesawat terbang yang membawa
seluruh Letjen Sidqi Mahmoud, yang berada dalam perjalanan dari al Maza ke Bir
Tamada di Sinai untuk bertemu dengan letnan kolonel yang bertugas di sana.
Dalam peristiwa ini memang tidak banyak bedanya kerana pilot terbang di bawah
liputan radar dan sesuai dibawah titik terendah dimana baterai misil S-75 Dvina daratan-ke-udara
akan menjatuhkan pesawat terbang tersebut.[71] Israel
telah menggunakan strategi serangan campuran, pengeboman dan tembakan yang
bertubi-tubi terhadap pesawat, dengan sistem serangan bom menembus bandara yang
menyebabkan bandara tidak berguna untuk pesawat-pesawat yang tidak musnah dan
oleh sebab itu, menjadikannya sasaran yang tidak dapat diselamatkan karena
gelombang-gelombang serangan Israel. Serangan tersebut lebih sukses dibanding
yang diharapkan. Serangan itu hampir memusnahkan seluruh Angkatan Udara Mesir
di daratan tanpa banyak pengorbanan Israel. Lebih dari 300 pesawat Mesir
dimusnahkan, dengan 100 pilot Mesir dibunuh [72] Israel
kehilangan 19 pesawat terbang karena kehilangan kendali, yaitu kegagalan
mekanik, dan sebagainya. Serangan ini juga menjamin keunggulan udara Israel
pada perang ini.
Sebelum peperangan ini terjadi, pilot Israel di
lapangan telah berlatih dengan sungguh-sungguh untuk memperlengkap serangan deras
pesawat yang kembali setelah melakukan serangan tiba-tiba, menyebabkan 1
pesawat melakukan serangan tiba-tiba empat kali sehari (hal ini bertentangan
dengan norma angkatan udara Arab yang hanya dapat melakukan satu atau dua
serangan udara setiap hari). Hal ini membuat Angkatan Udara Israel menurunkan
banyak gelombang serangan terhadap bandara militer Mesir pada saat perang yang
pertama, dan mengalahkan Angkatan Udara Mesir. Hal ini juga menyebabkan orang
Arab mempercayai bahwa Angkatan Udara Israel dibantu oleh militer asing.
Menyusul kemenangan gelombang-gelombang serangan
permulaan terhadap bandara militer Mesir yang utama, serangan-serangan susulan
dibuat pada akhir hari pertama terhadap bandara yang lebih kecil serta
bandara Yordania, Suriah, dan juga Irak. Sepanjang perang,
pesawat-pesawat Israel meneruskan tembakan yang bertubi-tubi terhadap bandara
Mesir untuk mencegah pemulihan bandara tersebut.
Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai
Pasukan Mesir terdiri dari 7 divisi, yaitu 4 divisi
lapis baja, 2 divisi infantri, dan 1 divisi infantri yang dimaknisasi. Mesir
memiliki sekitar 100.000 pasukan dan 900-950 tank di Sinai, dipersenjatai
dengan 1.100 Pengangkut personel lapis baja dan
1.000 artileri.[73] Penyusunan
ini berdasarkan dari doktrin Uni Soviet, di mana mobil lapis baja menyediakan
pertahanan dinamik ketika infantri ikut serta dalam pertempuran yang bersifat
pertahanan.
Pasukan Israel mengkonstrasikan di perbatasan Mesir
dengan mengikutsertakan 6 brigadir lapis baja, 1 brigadir infantri, 1 brigadir
infantri yang dimaknisasi, 3 brigadir pasukan payung dan 700 tank yang
berjumlah 70.000 orang, diatur dalam 3 divisi lapis baja. Rencana Israel adalah
untuk mengejutkan pasukan Mesir (serangan tersebut tentu saja bertepatan dengan
serangan Angkatan Udara Israel terhadap bandara Mesir), yang menyerang melalui
rute utara dan tengah Sinai, dimana diluar dugaan Mesir karena Mesir mengguna
Israel akan menggunakan rute yang sama dengan serangan tahun 1956, dimana Angkatan Bersenjata Israel menyerang
melalui rute tangah dan selatan.
Pada divisi Israel yang di utara, terdapat 3 brigadir
dan diperintah oleh Mayor Jendral Israel Tal,
salah satu letnan kolonel yang paling penting, menyerang dengan lambat
melewati Jalur Gaza danEl Arish,
yang tidak dilindungi.
Divisi tengah yang diperintah oleh Avraham Yoffe dan
divisi selatan yang diperintah oleh Ariel Sharon,
memasuki daerah Abu-Ageila-Kusseima yang sangat dilindungi oleh Mesir yang
membuat terjadinya Pertempuran Abu-Ageila. Pasukan Mesir yang
berada disana terdiri dari 1 divisi militer, 1batalyon tank
perusak dan 1 regimen tank.
Sharon melakukan sebuah serangan, yang telah
direncanakan. Ia mengirim 2 dari brigadirnya ke sisi utara Um-Katef,
yang pertama yang dapat menembus pertahanan Abu-Ageila ke
selatan, dan yang kedua yang dapat memblok jalan menuju El Arish dan
untuk melingkari Abu-Ageila dari timur. Pada waktu yang sama, pasukan payung
terjun didekat bagian belakang posisi bertahan pasukan mesir dan menghancurkan
artileri untuk mencegah penggunaan artileri untuk membalas serangan infantri
Israel dengan artileri tersebut. Dengan digabungkannya pasukan, tank, pasukan
payung, infantri, artileri, dan insinyur militer yang menyerang Mesir dari
depan, belakang dan sisi lainnya. Pertempuran berlangsung 3 setengah hari
sampai akhirnya Abu-Ageila jatuh.
Banyak pasukan Mesir yang tetap utuh dan terus mencoba
mencegah pasukan Israel mencapaiTerusan Suez atau
menyerang secara tiba-tiba dalam usaha untuk mencapai kanal. Namun, ketika
Menteri Pertahanan Mesir, Abdel Hakim Amer mendengar
berita tentang jatuhnya Abu-Ageila,
ia panik dan emmerintahkan seluruh pasukan di Sinai untuk mundur. Perintah ini
berarti kekalahan Mesir.
Karena mundurnya pasukan Mesir, letnan kolonel
tertinggi Israel memilih untuk tidak mengejar pasukan Mesir, namun lebih baik
menyusul dan menghancurkan mereka di wilayah pegunungan di Sinai Barat. Setelah
itu, dalam waktu 2 hari (6 Juni 7 Juni 1967), seluruh 3 divisi Israel
(Sharon dan Tal diperkuat oleh brigadir lapis baja) maju menuju barat dan
mencapai jalan di daerah pegunungan. Divisi Sharon pertama pergi menuju selatan
dan barat menuju celah Mitla. Semua pasukannya bergabung disana dengan bagian
dari divisi Yoffe, ketika pasukan lainnya memblok celah Gidi. Pasukan Tal juga
berhenti di berbagai tempat.
Aksi blokade Israel hanya sukses di celah Gidi yang
dapat direbut sebelum pasukan Mesir muncul, namun di tempat lain, pasukan Mesir
dapat melewati dan menyebrang untuk keselamatan terusan. Namun, kemenangan
Israel tetaplah mengagumkan. Dalam operasi selama 4 hari, pasukan Israel
menaklukan pasukan yang paling besar dan pasukan paling bersenjata di Arab, meninggalkan
beberapa tempat di Sinai terbuang dengan ratusan pembakaran atau mobil Mesir
yang ditinggalkan dan persenjataan militer.
Pada tanggal 8 Juni 1967, Israel menyelesaikan pendudukan
Sinai dengan mengirim pasukan infantri ke Ras-Sudar (ladang minyak di
teluk Suez) di pantai barat semenanjung tersebut.
Terdapat beberapa penyebab yang membuat serangan cepat
Israel menjadi mungkin untuk dilakukan, pertama, keunggulan Angkatan Udara
Israel atas Mesir, kedua, Israel membuat rencana perang yang baik, dan yang
ketiga, koordinasi yang kurang diantara pasukan Mesir. Hal tersebut juga
menjadi elemen kemenangan di front Israel yang lainnya.
Tepi Barat
Yordania enggan
untuk memasuki perang ini. Beberapa menyatakan bahwa Nassermenggunakan
ketidakjelasan pada jam pertama konflik tersebut untuk meyakinkan Hussein bahwa
ia menang. Nasser menyatakan sebagai bukti bahwa sebuah radar melihat 1
skuadron pesawat tempur Israel kembali dari bombardmen di Mesir yang dinyatakan
oleh Nasser sebagai pesawat Mesir yang menyerang Israel. Salah satu brigadir
Yordania yang berpatroli di Tepi Barat dikirim
ke daerah Hebronuntuk
berhubungan dengan Mesir. Hussein memilih untuk menyerang.
Pada perang, militer Yordania, termasuk 11 brigadir
yang berjumlah 55.000 pasukan, dilengkapi dengan 300 tank modern. 9 brigadir
(45.000 tentara, 270 tank, 200 artileri)
didistribusikan ke Tepi Barat,
termasuk brigadir elit lapis baja ke-40, dan 2 di Lembah Yordania. Pasukan Arab
merupakan pasukan yang berpengalaman, profesional, memiliki persenjataan yang
cukup dan sudah cukup terlatih, bahkan pos perang Israel menyatakan bahwa
jendral Yordania beraksi
dengan profesional, tapi selalu meninggalkan "setengah dari langkah"
di belakang oleh pergerakan Israel. Pada Angkatan Udara Yordania hanya terdapat
24 pesawat tempur Hawker Hunter buatan Britania Raya.
Menurut Israel, pesawat Hawker Hunter sejajar dengan Dassault
Mirage III buatan Perancis yang
merupakan pesawat terbaik Angkatan Udara Israel.[74]
Untuk melawan pasukan Yordania di Tepi Barat,
Israel mendistribusikan sekitar 40.000 pasukan dan 200 tank {8 brigadir).[75]Pada
pasukan utama Israel terdapat 5 brigadir. 2 brigadir berpatroli di Yerusalem dan
disebut Brigadir Yerusalem dan Brigadir Harel yang dimaknisasikan. Brigadir
pasukan payung ke-55 Mordechai Gur dipanggil
dari front Sinai. Sebuah brigadir lapis baja dialokasikan dari pasukan cadangan
dan dibawa ke daerah Latrun.
Brigadir lapis baja ke-10 berpatroli di utara Tepi Barat.
Komando utara Israel menyediakan sebuah divisi 3 brigadir) yang dipimpin oleh
mayor jendral Elad Peled,
yang berpatroli di utara Tepi Barat, di Lembah Jezreel.
Rencana Angkatan Bersenjata Israel merupakan
rencana untuk tetap bertahan di front Yordania, agar dapat mengutamakan
serangan atas Mesir. Namun, pada pagi hari tanggal 5 Juni 1967, pasukan Yordania melakukan daya
tolak di daerah Yerusalem, menduduki rumah pemerintahan yang digunakan sebagai
benteng untuk pengamat PBB dan menembak bagian barat kota Yerusalem. Pasukan
di Qalqiliya menembak
ke arah kota Tel Aviv.
Angkatan Udara Yordania menyerang bandara Israel. Baik serangan udara maupun
artileri menyebabkan kerusalakan kecil. Pasukan Israel berpencar untuk
menyerang pasukan Yordania di Tepi Barat.
Pada siang hari di hari yang sama, Angkatan Udara Israel beraksi dan
menghancurkan Angkatan Udara Yordania. Pada sore hari, brigadir infantri
Yerusalem bergerak ke arah selatan Yerusalam, ketika pasukan payung Harel dan
Gur melingkari dari utara.
Pada tanggal 6 Juni 1967, pasukan Israel menyerang.
Brigadir pasukan payung cadangan menyelesaikan pelingkaran Yerusalem dalam
pertarungan yang berdarah, yaitu Pertempuran Bukit Amunisi,
pertempuran yang terjadi di pos militer Yordania di Yerusalem Timur. Brigadir
infantri menyerang benteng di Latrun dan merebutnya pada akhir hari, dan maju
melewati Beit Horon menujuRamallah.
Brigadir Harel melanjutkan serangannya ke daerah pegunungan di barat laut
Yerusalem. Pada sore hari, brigadir tersebut tiba di Ramallah. Angkatan Udara
Israel mendeteksi dan menghancurkan Brigadir Yordania ke-60 dengan Angkatan
Udara Israel mengalihkan rute dariYerikho untuk
memperkuat Yerusalem.
Di utara, 1 batalion dari divisi Peled dikirim untuk
memeriksa pertahanan Yordania di Lembah Yordania. Brigadir yang merupakan
bagian dari divisi Peled merebut bagian barat dari Tepi Barat,
dan yang lainnya merebut Jenin dan yang ketiga (dilengkapi
dengan AMX-13)
menyerang tank M48 Pattonmilik
Yordania di timur.
Pada tanggal 7 Juni 1967, pertarungan berat terjadi
kemudian. Pasukan payung Gur memasuki kota tua Yerusalem melewati
gerbang singa dan merebut tembok ratapan dan Al Haram Al
Sharif. Brigadir Yerusalem lalu memperkuat mereka, dan
melanjutkan serangan ke selatan, merebut Yudea, Gush Etzion dan Hebron. Brigadir Harel melanjutkan
serangan ke timur, bergerak menuju Sungai Yordan.
Di Tepi Barat, salah satu brigadir Peled mengepung Nablus lalu bergabung dengan salah
satu brigadir pasukan utama untuk bertempur melawan pasukan Yordania yang
memiliki jumlah persenjataan yang lebih banyak dari Israel.
Kekuasaan udara Israel menjadi faktor kekalahan
Yordania. Salah satu brigadir Peled bergabung dengan pasukan utama yang datang
dari Ramallah, dan 2 lainnya mengeblok Sungai Yordan bersama dengan Pasukan
Utama ke-10 (nantinya mereka menyebrangi Sungai Yordan ke Tepi Timur untuk
menyediakan tempat untuk insinyur militer ketika mereka meledakan jembatan,
tapi akhirnya dengan cepat mundur karena tekanan Amerika Serikat).
Dataran Tinggi Golan
Laporang orang Mesir yang salah tentang kemenangan
atas pasukan Israel, dan ramalan bahwa artileri Mesir akan segera menguasai Tel Aviv membuat Suriah semakin yakin untuk
memasuki perang. Kepemimpinan Suriah mengadopsi kemunculan yang lebih
berhati-hati daripada mulai menyerang Israel Utara. Ketika Angkatan Udara
Israel menyelesaikan misinya di Mesir, dan berbalik untuk
menghancurkan Angkatan Udara Suriah yang terkejut, Suriah mengerti bahwa berita
yang didengar dari Mesir tentang
penghancuran atas militer Israel adalah berita palsu.[76] Selama
sore hari pada tanggal 5 Juni 1967, serangan udara Israel
menghancurkan dua dari pesawat Angkata Udara Suriah, dan memaksa pesawat
lainnya untuk mundur ke basis terdekat, tanpa memainkan peran lebih jauh dalam
peperangan. Pasukan Suriah mencoba merebut pabrik air di Tel Dan.
Beberapa tank Suriah juga dilaporkan tenggelam di sungai Yordan. Dalam berbagai
kasus, komando Suriah berharap adanya serangan bawah tanah dan memulai serangan
besar-besaran atas kota Israel di Lembah Hula.
Tanggal 7 Juni 1967 dan 8 Juni 1967 terlewati dengan hal
seperti ini. Pada saat itu, debat telah terjadi di Israel bahwa Dataran
Tinggi Golan juga harus diserang. Militer menyatakan bahwa
serangan itu akan sangat mahal, karena pertempuran itu merupakan pertempuran di
daerah pegunungan melawan musuh yang kuat. Pada sisi barat Dataran Tinggi
Golan, terdapat lereng bebatuan yang tingginya mencapai 500 meter (1700 kaki)
dari Danau Galilea dan Sungai Yordan. Moshe Dayan percaya
bahwa operasi itu akan membuat sekitar 30.000 orang mati. Levi Eshkol,
di tangan lain, lebih terbuka kepada kemungkinan pada sebuah operasi
terhadap Dataran
Tinggi Golan, dan juga ketua dari Komando Utara, David Elazar,
yang sangat yakin bahwa operasi ini dapat mengikis keengganan Dayan. Akhirnya,
dimana situasi di front selatan dan tengah bersih, Moshe Dayan menjadi lebih
yakin dengan ide ini, dan ia memimpin operasi ini.
Jumlah pasukan Suriah sekitar 75.000 yang dikelompokan
dalam 9 brigadir, didukung oleh jumlah artileri dan persenjataan yang cukup.
Pasukan Israel yang digunakan dalam serangan terdiri dari 2 brigadir (satu
brigadir lapis baja dipimpin oleh Albert Mandler dan
Brigadir Golan) di bagian utara front, dan 2 lainnya (infantri dan 1 dari
brigadir Peled yang dipanggil untuk Jenin) di front pusat. Walaupun tentara
Suriah dapat bergerak dari utara ke selatan di dataran tinggi tersebut, tentara
Israel dapat bergerak dari utara ke selatan di basis tebing Golan. Keunggulan
yang didapat oleh Israel adalah intelijen yang baik yang dapat mengumpulkan
data oleh mata-mata Mossad,
Eli Cohen (yang akhirnya tertangkap dan dieksekusi di Suriah tahun 1965)
mendapat informasi tentang posisi pertempuran Suriah.
Angkatan Udara Israel yang telah menyerang artileri
Suriah selama 4 hari, mendapat perintah untuk menyerang posisi Suriah dengan
seluruh pasukannya. Ketika artileri yang dilindungi dengan baik hampir tidak
terdapat kerusakan, pasukan darat tetap berada di Dataran Tinggi Golan (6 dari
9 brigadir) menjadi tidak dapat mengatur pertahanan. Pada sore hari
tanggal 9 Juni 1967, 4 brigadir Israel telah
menembus Dataran Tinggi Golan, dimana mereka dapat diperkuat dan diganti.
Pada tanggal 10 Juni 1967, grup tengah dan utara bergabung
dalam pergerakan di dataran tinggi, namundaerah tersebut direbut dalam keadaan
kosong dimana pasukan Suriah telah melarikan diri. Beberapa pasukan gabungan
yang dipimpin oleh Elad Peled memanjat Golan dari selatan, hanya untuk
mendapati posisi yang kosong. Selama hari itu, pasukan Israel berhenti setelah
menerima manuver diantara posisi mereka dimana terdapat garis dari lereng
gunung berapi ke barat. Di bagian timur, relief dataran rendah adalah relief
padang rumput yang terbuka. Posisi ini menjadi garis gencatan senjata yang
diketahui dengan nama "Garis Ungu".
Perang di Udara
Selama perang enam hari, Angkatan Udara Israel
mendemonstrasikan kepentingan kekuasaan udara selama terjadinya konflik militer
modern, terutama dalam front padang pasir. Dengan serangan Angkatan Udara
Israel yang dimulai selama matahari terbit, angkatan udara Israel dapat
menaklukan angkatan udara Arab dan mendapat kekuasaan udara di seluruh front,
dan menjadi salah satu penyebab kemenangan Israel pada perang ini, dan yang
paling menarik adalah dihancurkannya brigadir lapis baja ke-60 Yordania didekat
Yerikho dan srangan terhadap brigadir lapis baja Irak yang dikirim untuk
menyerang Israel melalui Yordania
Angkatan Udara Arab tidak pernah berhasil untuk
membuat serangan yang efektif, contohnya serangan pejuang Yordania dan
pengebom Tu-16 Mesir
terhadap Israel selama 2 hari pertama tidak berhasil dan memimpin penghancuran
pesawat tempur (pengebom Mesir ditembak jatuh ketika pejuang Yordania
dihancurkan selama diserang).
Beberapa pilot Arab yang kecewa berkhianat dengan MiG
pada Israel terlebih dahulu pada pecahnya konflik. Israel mengkapitalisasikan
pada hal ini dengan uji coba penerbangan MiG pada tingkat maksimum, yang
memberi pilot Israel keunggulan terhadap musuh mereka. Pengkhianatan Arab yang
menarik perhatian termasuk:
- Pada 19 Januari 1964, pilot Mesir, Mahmud Abbas Hilmi berkhianat dari Lapangan Udara el-Arish ke Lapangan Udara Hatzor di Israel di Yakovlev Yak-11nya.
- Pada tahun 1965, pilot Suriah berkhianat pada MiG-17F kepada Israel.
- Pada tahun 1966, Kapten Irak Munir Redfa menerbangkan MiG-21F-13 ke Israel. Setelah pengkhianatan kapten Redfa, 3 MiG-21F-13 dan paling sedikit 6 MiG-17F pilot Aljazair ditangkap oleh Israel setelah mendaratkan pesawat mereka di Lapangan Udara el-Arish Israel karena kesalahan. Salah satu pilot Aljazair yang ditangkap dipertanyakan dan mendapat asylum politik di Barat, sementara sisanya dipulangkan.
- Paling sedikit dua pilot Irak berkhianat ke Yordania dengan MiG-21F-13. Yordania memberi mereka asylum politik tetapi mengembalikan pesawatnya ke Irak.
Pada 6 Juni,
hari kedua perang, Raja Hussein dan Nasser menyatakan bahwa pesawat Amerika dan
Britania ikut serta dalam serangan Israel.
Perang di Laut
Perang di laut sangat terbatas. Pergerakan kapal
perang Israel dan Mesir digunakan untuk menyerang dari sisi lain, tapi tidak
pernah secara langsung ikut serta dalam pertarungan lainnya di laut. Pergerakan
yang mendapat sebuah hasil adalah penggunaan 6 manusia katak Israel di
pelabuhanAlexandria (mereka
tertangkap karena menenggelamkan sebuah kapal), dan kru kapal ringan Israel
yang merebut Sharm
el-Sheikh di daerah selatan semenanjung Sinai pada
tanggal 7 Juni 1967.
Pembersih ranjau Mesir tenggelam di pelabuhan
Hurgahda. Kapal yang tenggelam disebut sebagai El Mina, yang
diterjemahkan sebagai "pelabuhan".[77]
Bala bantuan setelah serangan Israel terhadap
USS Liberty.
Insiden USS Liberty
Pada tanggal 8 Juni 1967, terjadi sebuah serangan pesawat tempur dan
kapal torpedo Israelterhadap
kapal intelijen Amerika Serikat USS Liberty sekitar
12.5 mil laut (23
km) lepas pantaiSemenanjung
Sinai, di utara kota Mesir El Arish.
Serangan ini menewaskan 34 tentara Amerika Serikat dan melukai setidaknya 173
orang dimana serangan ini adalah serangan yang paling mematikan kedua
terhadap kapal perang Amerika
Serikat sejak Perang Dunia
II, terbesar kedua setelah serangan rudalExocet Irak terhadap kapal USS Stark pada
tanggal 17 Mei 1987, dan menimbulkan korban jiwa
terbesar dalam sejarah komunitas
intelijen AS. Israel menyatakan bahwa terjadi kesalahan
identifikasi dan Israel meminta maaf dengan membayar ganti rugi terhadap
keluarga korban. Kebenaran tentang klaim Israel masih diperdebatkan,
namun Amerika
Serikat menerima bahwa insiden ini adalah sebuah kecelakaan.
Akhir konflik dan keadaan pasca-perang
Wilayah yang direbut Israel
Tanggal 11 Juni,
Israel menandatangani perjanjian gencatan senjata dan mendapatkan Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat (termasuk
Yerusalem Timur), dan Dataran
Tinggi Golan. Secara keseluruhan, wilayah Israel bertambah tiga
kali lipat, termasuk sekitar satu juta orang Arab yang masuk ke dalam kontrol
Israel di wilayah yang baru didapat (banyak dari penduduk wilayah-wilayah
tersebut mengungsi ke luar Israel). Batas Israel bertambah paling sedikit 300
km ke selatan, 60 km ke timur, dan 20 km ke utara.
Korban Jiwa
Korban yang jatuh dari pihak Israel, jauh dari
perkiraan semula yang berjumlah lebih dari 10.000, termasuk sedikit: 338
prajurit meninggal di medan pertempuran Mesir, 550 meninggal dan 2.400 luka di
medan pertempuran Yordania[78] dan
141 di medan pertempuran Suriah. Mesir kehilangan 80% peralatan militer mereka,
10.000 prajurit meninggal dan 1.500 panglima terbunuh[79],
5.000 prajurit and 500 panglima tertangkap[80],
dan 20.000 korban luka.[81] Yordania
mengalami korban 700 meninggal dan sekitar 2.500 terluka.[82] Suriah
kehilangan 2.500 jiwa dan 5.000 terluka, separo kendaraan lapis baja dan hampir
semua artileri yang ditempatkan di Dataran Tinggi Golan dihancurkan.[83] Data
resmi dari korban Irak adalah 10 meninggal dan sekitar 30 terluka.[84]
Perubahan Religius
Akhir dari perang juga membawa perubahan religius. Di
bawah pemerintahan Yordania, orang-orang Yahudi dan Nasrani dilarang memasuki
Kota Suci Yerusalem, yang termasuk Tembok Ratapan,
situs paling suci orang Yahudi sejak kehancuran Bait Suci mereka. Orang Yahudi
merasakan situs-situs Yahudi tidak dirawat, dan kuburan-kuburan mereka telah
dinodai. Setelah dikuasai Israel, pelarangan ini dibalik. Israel mempersulit
para pemuda Islam yang ingin beribadah di Masjid Al-Aqsa dengan alasan
keamanan, dan hanya orang tua dan anak-anak saja yang diperbolehkan,
meskipun Masjid
Al-Aqsa dipercayakan di bawah pengawasan wakaf Muslim
dan orang-orang Yahudi dilarang untuk beribadah di sana.
Insiden lain ialah adanya penggalian terowongan di
bawah Masjid Al-Aqsa dengan tujuan mencari Haikal
Sulaiman (Bait Suci Kedua), yang membuat pondasi masjid
menjadi rapuh dan kemungkinan besar masjid dapat ambruk.[88][89] Situs
Al-Aqsa Online menyebutkan (15/2/2008), telah terjadi longsoran yang
menimbulkan lubang sedalam dua meter dengan diameter 1,5 meter. Longsoran itu
terjadi di dekat Pintu Gerbang Al-Selsela dan sumber air Qatibai, sisi barat
masjid. Dalam pernyataannya, lembaga rekonstruksi tempat-tempat suci Islam
Al-Aqsa Foundation menyatakan, longsoran itu disebabkan oleh penggalian yang dilakukan
sekelompok warga Israel di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa dan penggalian
tersebut sudah mencapai Pintu Gerbang Selsela. Hal serupa juga dilontarkan
gerakan Islam di Israel pimpinan Syaikh Raed Salah, yang menyerukan agar
negara-negara Muslim segera mengambil langkah untuk menghentikan penggalian
tersebut yang dilakukan di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Selain kegiatan penggalian, pada Februari 2007,
buldoser-buldoser Israel menghancurkan jembatan kayu menuju Pintu Gerbang
Al-Maghariba dan menghancurkan dua ruang di bawah tanah, komplek Masjid
Al-Aqsa. Aksi Israel ini menuai protes dari rakyat Palestina dan negara-negara
Muslim. Namun Israel seakan-akan tidak mendengarkan kecaman-kecaman itu.
Perubahan Politik
Pengaruh Perang Enam Hari tahun 1967 dari segi politik amat
besar. Israel telah menunjukkan bahwa Israel tidak hanya mampu, tetapi juga
hendak memulai serangan-serangan strategik yang dapat merubah keseimbangan
wilayah. Mesir dan Suriah mempelajari berbagai kemungkinan taktikal, tetapi
mungkin bukan yang strategik. Mereka kemudian melancarkan serangan pada
tahun 1973, dalam satu percobaan untuk menguasai
kembali wilayah yang telah direbut Israel.
|
“
|
Pada
tanggal 19 Juni 1967, Pemerintah Israel melakukan
pemungutan suara untuk mengembalikan Sinai kepada Mesir dan Dataran Tinggi
Golan kepada Suriah sebagai imbalan atas terjadinya perjanjian perdamaian.
Dataran Tinggi Golan akan dijadikan kawasan bebas militer, serta perjanjian
khusus akan dibuat untuk persoalan Selat Tiran. Israel juga berketetapan
untuk memulai perundingan dengan Raja Hussein dari Yordania mengenai
perbatasan timurnya. [95]
|
”
|
Keputusan Israel akan disampaikan kepada negara-negara
Arab melalui Amerika Serikat. Namun, walaupun Amerika Serikat diberitahu
tentang keputusan ini, ia tidak diberitahu bahwa Israel memerlukan bantuannya
untuk menyampaikan keputusan ini kepada Mesir dan Suriah. Oleh sebab itu,
beberapa ahli sejarah menyatakan bahwa Mesir dan Suriah tidak pernah menerima
tawaran itu. [96]
Resolusi Khartoum membuat
ketetapan bahwa "tidak akan ada perdamaian, pengakuan, atau perundingan
dengan Israel". Namun, seperti yang diperhatikan Avraham Sela,
resolusi Khartoum menandakan secara berkesan suatu peralihan tanggapan
pertempuran negara-negara Arab daripada persoalan tentang kesahan Israel kepada
persoalan wilayah dan perbatasan dan ini ditegaskan pada tanggal 22 November 1967 ketika Mesir dan Yordania
menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 242. [97]
Keputusan kabinet pada tanggal 19 Juni 1967 tidak termasuk Jalur Gaza dan
oleh sebab itu, mengakibatkan kemungkinan Israel untuk memperoleh
sebagian Tepi Barat secara
permanen. Pada tanggal25 - 27 Juni 1967, Israel menggabungkan Yerusalem Timur
bersama kawasan-kawasan Tepi Barat di utara dan selatan kedalam kawasan Israel
yang baru.
Satu lagi aspek peperangan adalah mengenai para
penduduk yang menghuni di wilayah-wilayah yang direbut Israel, dan dari sekitar
1 juta orang Palestina di
Tepi Barat, 300.000 [98] melarikan
diri keYordania dan
menyumbang pergolakan yang semakin bertambah di sana. 600.000 orang yang
lain [99]tetap
tinggal di Tepi Barat. Di Dataran Tinggi Golan, sebanyak 80.000 orang Suriah
melarikan diri.[100] Hanya
para penghuni Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan yang menerima hak
kediaman Israel yang terbatas dan Israel menganeksasi wilayah tersebut pada
tahun 1980.
Baik Yordania dan Mesir akhirnya menarik balik
tuntutan masing-masing terhadap Tepi Barat dan Jalur Gaza (Semenanjung Sinai
dikembalikan kepada Mesir pada tahun 1978, dan persoalan Dataran Tinggi
Golan masih dirundingkan dengan Suriah). Selepas penaklukan
"wilayah-wilayah" baru ini oleh Israel, sebuah usaha penempatan yang
besar dilancarkan oleh Israel untuk mengamankan daerah permanen Israel.
Terdapat ratusan ribu penduduk Israel di wilayah-wilayah tersebut pada hari
ini, walaupun penempatan-penempatan Israel di Jalur Gaza telah dipindahkan dan
dimusnahkan pada bulan Agustus tahun 2005.
Kontroversi
Peristiwa-peristiwa pada saat Perang Enam Hari yang
dramatik telah menimbulkan beberapa tuduhan serta teori-teori yang penuh dengan
kontroversi.
Angkatan Bersenjata Israel Membunuh Tawanan perang
Mesir
Dalam sebuah pertemuan untuk Radio Israel pada
tanggal 16 Agustus 1995, Aryeh Yitzhakiyang
dahulu bertugas di Pusat Pengajian Sejarah Angkatan Bersenjata Israel di
Universitas Bar-Ilan menuduh bahwa pasukan Israel melakukan pembunuhan sehingga
1.000 orang Mesir yang tak bersenjata dibunuh oleh Angkatan Bersenjata Israel.
Tuduhan itu menerima perhatian yang meluas di Israel serta di seluruh dunia.
Namun, Yitzhaki kemudian diketahui bahwa ia merupakan seorang ahli Partai
Tsomet (partai politik sayap kanan Israel) yang diketuai oleh Rafael Eitan.
Meir Pa'il, seorang politikus dan ahli sejarah yang pernah memperkerjakan Yitzhaki
sebagai asistennya, menyatakan bahwa Yitzhaki mempunyai niat terselubung untuk
mengalihkan perhatian orang dari penuduhan oleh Jendral Arye Biro tentang
keikutsertaan Yitzhaki dalam pembunuhan 49 orang tawanan perang pada saat
perang tahun 1956.
Walaupun tuduhan Yitzhaki tidak pernah disahkan,
banyak anggota militer yang tampil ke depan semasa perdebatan negara di Israel
yang penuh dengan kontroversi untuk mengatakan bahwa mereka telah menyaksikan
pembunuhan tawanan tidak bersenjata. Ahli sejarah militer Israel, Uri Milstein,
dilaporkan berkata bahwa banyak kejadian yang serupa telah dilakukan dalam
peperangan itu: "Itu bukan dasar resmi, tetapi terdapat suasana bahwa
perbuatan itu tidak salah. Sebagian letnan kolonel memutuskan untuk membuatnya,
dan ada yang enggan berbuat demikian. Tetapi setiap orang tahu akan perkara
itu".
Dokumen Angkatan Bersenjata Israel pada tanggal 11 Juni 1967 menunjukan adanya larangan
untuk membunuh tawanan, dan menjelaskan kedudukan resmi Israel. Namun, tidak
terdapat dokumen resmi Israel yang membenarkan skala pembunuhan untuk
ditaksirkan dengan tepat.
Menurut laporan New York Times pada
tanggal 21 September 1995, Mesir telah mengumumkan
penemuan dua kuburan yang berisi banyak orang dan tidak dalam di El Arish,
Sinai, dimana terdapat jasad 30-60 tawanan Mesir yang ditembak oleh tentara
Israel selama perang enam hari. Israel dilaporkan menawarkan ganti rugi kepada
keluarga korban.
Menurut arsip resmi Israel, sebanyak 4.338 tentara
Mesir telah ditangkap oleh Angkatan Bersenjata Israel. 11 tentara Israel telah
ditangkap oleh tentara Mesir. Pertukaran tawanan selesai pada tanggal 23 Januari 1968.
Dukungan Amerika Serikat dan Britania Raya
Kapal USS Independence digunakan
dalam Armada Keenam Amerika Serikat tahun 1967
Sebagian orang Arab mempercayai bahwa Amerika Serikat
dan Britania Raya memberikan dukungan yang aktif kepada Angkatan Udara Israel.
Tuduhan tentang dukungan pertempuran Amerika Serikat dan Britania Raya kepada
Israel bermula pada hari kedua peperangan tersebut. Radio Kairo dan akhbar
kerajaan Al-Ahram membuat beberapa tuduhan, antaranya:
- pesawat-pesawat dari kapal induk pesawat udara Amerika Serikat dan Britania Raya membuat serangan terhadap angkatan tentera Mesir
- pesawat-pesawat Amerika Serikat yang ditempatkan di Libya menyerang Mesir
- satelit mata-mata Amerika Serikat memberikan informasi kepada Israel.
Suriah dan Yordania membuat laporan-laporan yang
serupa dalam siaran-siaran Radio Damaskus dan Radio Amman. Tuduhan ini juga
disebut lagi oleh Presiden Mesir, Gamal Abdel
Nasser, dalam ucapannya saat peletakan jabatannya pada
tanggal 9 Juni 1967 (peletakan jabatannya
ditolak). London dan Washington D.C. membantah
tuduhan ini, dan tidak terdapat bukti yang mendukung tuduhan tersebut. Dalam
lingkungan pemerintahan Amerika Serikat dan Britania Raya tuduhan ini dengan
cepatnya dikenali sebagai "kebohongan besar". Walaupun begitu,
tuduhan bahwa orang-orang Arab sedang bertempur dengan Amerika Serikat serta
Britania Raya, dan bukan hanya dengan Israel, berterusan dalam dunia Arab.
Menurut Elie Podeh, ahli sejarah Israel: "Semua
buku teks sejarah Mesir selepas tahun 1967mengulangi tuduhan bahwa Israel
melancarkan peperangan itu dengan dukungan dari Britania Raya dan Amerika
Serikat. Hal itu juga mengasaskan perkaitan langsung antara perang 1967 dengan percobaan-percobaan
imperialis yang dahulu untuk menguasai dunia Arab, dan menggambarkan Israel
sebagai satu "kacung" imperialis. Pengulangan kisah dongeng ini,
dengan hanya sedikit perubahan, dalam semua buku teks sejarah bermaksud bahwa
semua kanak-kanak sekolah Mesir telah diindoktrinasikan
dengan cerita sulit itu." Sebuah telegram Britania ke
kubu-kubu Timur Tengah menyimpulkan: "Keengganan Arab untuk menolak semua
versi palsu itu berasal sebagian dari keperluan untuk mempercayai bahwa tentara
Israel tidak dapat menewaskan mereka dengan begitu saja tanpa bantuan
luar."
Ahli-ahli sejarah seperti Michael Oren memperdebatkan
bahwa dengan mengenakan tuduhan salah terhadap Amerika Serikat dan Britania
Raya kerana membantu Israel secara langsung. Sebagai tindak balas terhadap
tuduhan itu, negara-negara minyak Arab kemudian mengumumkan boikot minyak. 6
negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Lebanonmenarik
kedutaan besarnya.
Pemimpin-pemimpin Arab sedang mencoba memperoleh
bantuan militer yang aktif dari Uni Soviet untuk diri sendiri. Namun, pihak
Soviet mengetahui bahwa tuduhan tentang bantuan asing terhadap Israel itu tidak
berasas, dan memberitahu diplomat-diplomat Arab di Moskwa tentang fakta ini. Walaupun
Uni Soviet tidak mempercayai tuduhan-tuduhan itu, media Soviet meneruskan
pemetikan tuduhan-tuduhan tersebut dan dengan itu, menipiskan kepercayaan
laporan-laporan itu.
Dalam sebuah pertemuan pada tahun 1993, Robert McNamara, Menteri Pertahanan Amerika Serikat,
menyatakan bahwa keputusan untuk menempatkan Armada Keenam Amerika Serikat
di Laut Tengah bagian
Timur untuk mempertahankan Israel, bahkan jika diperlukan, telah mencetuskan
krisis antara Amerika Serikat dan Kesatuan Soviet. Armada tersebut sedang
menjalani latihan tentera laut berhampiran dengan Gibraltar ketika
itu. McNamara tidak menerangkan bagaimana krisis itu diatasi.
Dalam bukunya, Enam Hari, Jeremy Bowen,
wartawan BBC, menuduh bahwa
selama krisis itu, kapal-kapal dan pesawat-pesawat Israel membawa simpanan
senjata Britania dan Amerika Serikat dari tanah Britania Raya.
Desakan Uni Soviet
Terdapat teori-teori bahwa seluruh perang pada tahun
1967 merupakan suatu percobaan yang tidak semestinya oleh Uni Soviet dengan
tujuan meningkatkan ketegangan antara Jerman Barat dengan
negara-negara Arab melalui dukungan Jerman Barat terhadap Israel.
Dalam sebuah artikel tahun 2003, Isabella Ginor memperincikan
dokumen-dokumen GRUSoviet
yang memuat rencana tersebut. Ia juga memperincikan informasi intelijen yang
salah yang diberikan kepada Mesir, yang menyatakan tentang bertambahnya jumlah
militer Israel besar-besaran.
Tokoh penting yang terlibat
- Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir
- Raja Hussein dari Yordania
- U Thant, Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa
- Levi Eshkol, Perdana Menteri Israel
- Moshe Dayan, Menteri Pertahanan Israel, Jenderal Israel
- Abba Eban, Menteri Luar Negeri Israel
- Lyndon B. Johnson, Presiden Amerika Serikat
- Robert McNamara, Menteri Pertahanan Amerika Serikat
- Leonid Brezhnev, Pemimpin Soviet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar