BAB
8
BIAYA
DAN KEPUTUSAN KELUARAN (OUTPUT) DALAM JANGKA PANJANG
GARIS-GARIS
BESAR :
Kondisi Jangka Pendek dan Arah
Jangka Panjang
·
Memaksimalkan Laba
·
Meminimalkan Kerugian
·
Kurva Penawaran Industri Jangka Pendek
·
Arah Jangka Panjang: Tinjauan Ulang
Biaya Jangka Panjang: Skala Ekonomi
dan Skala Disekonomi
·
Hasil yang Menaik saat Skala Bertambah
·
Hasil yang Konstan saat skala Bertambah
·
Hasil yang Menurun saat Skala Bertambah
Penyesuaian Jangka Panjang terhadap
Kondisi Jangka Pendek
·
Laba Jangka Pendek:
§ Pengembangan
Usaha menuju Ekuilibrium
·
Kerugian Jangka Pendek:
§ Penciutan
Usaha menuju Ekuilibrium
·
Mekanisme Penyesuaian Jangka Panjang:
§ Investasi
Mengalir ke Arah Peluang Laba
RESUME:
Setiap perusahaan harus membuat tiga
keputusan dasar:
(1)
Berapa keluaran (output) yang akan diproduksi atau ditawarkan, (2) Bagaimana
memproduksi keluaran (output) itu, dan (3) Berapa masing-masing masukan (input)
yang diminta.
Perusahaan
menggunakan informasi tentang harga
masukan (input), harga keluaran (output), dan teknologi untuk membuat
keputusan-keputusan yang akan menghasilkan laba terbesar. Karena laba itu sama
dengan penerimaan dikurangi biaya, perusahaan harus mengetahui dengan harga
berapa mereka dapat menjual produknya dan berapa biaya produksinya bila menggunakan
teknologi yang paling efisien.
Sebelum itu kita harus melihat dan
mengetahui cara menurunkan kurva-kurva biaya dari fungsi produksi dan harga
masukan (input). Setelah perusahaan mempunyai gambaran yang jelas mengenai biaya
jangka pendeknya, harga keluaran (output) yang dijual menentukan jumlah
keluaran (output) yang akan memaksimalkan laba. Tegasnya, perusahaan persaingan
secara sempurna akan menawarkan keluaran (output) hingga ke titik, pada saat
harga (penerimaan marjinal) sama dengan biaya marjinal. Oleh karenanya kurva
biaya marjinal perusahaan semacam itu adalah sama dengan kurva penawarannya.
Keputusan-keputusan keluaran
(output) (penawaran) dalam jangka panjang tidak begitu mengalami batasan
dibandingkan jangka pendek, karena dua alasan: pertama, dalam jangka panjang
perusahaan tidak mempunyai faktor produksi tetap yang membatasi produksinya
pada skala tertentu. Kedua, perusahaan bebas memasuki industri untuk mencari
laba dan meninggalkan industri untuk menghindari kerugian.
Jangka panjang mempunyai implikasi
penting terhadap bentuk kurva-kurva biaya. Skala yang tidak tetap, membuat bentuk-bentuk kurva biaya menjadi
lebih kompleks dan lebih sulit digeneralisasi.
Keputusan jangka panjang dengan
meninjau perusahaan dalam tiga keadaan jangka pendek: (1) Perusahaan yang
mendapat laba ekonomi, (2) Perusahaan yang mengalami kerugian ekonomi tetapi
terus beroperasi untuk mengurangi atau meminimalkan kerugian tersebut, dan (3)
Perusahaan yang memutuskan untuk menutup usaha dan menanggung kerugian yang
besarnya persis sama dengan biaya tetap.
Semua perusahaan tunduk pada
spektrum situasi laba atau rugi jangka pendek, tanpa menghiraukan struktur
pasarnya.
KONDISI JANGKA PENDEK
DAN ARAH JANGKA PANJANG
Tingkat pengembalian modal yang
wajar adalah tingkat yang cukup memadai sehingga membuat para investor yang
telah menanamkan modal tetap berminat terhadap industri tersebut. Apabila
perusahaan mendapatkantingkat pengembalian modal di atas nilai wajar
perusahaaan itu memiliki laba yang positif, begitupun sebaliknya dengan laba
negatif. Bila ada laba positif dalam industri tertentu, investor baru cenderung
tertarik ke industri tersebut.
Bila perusahaan menderita rugi,
berarti perusahaan itu mendapatkan tingkat pengembalian modal dibawah nilai
wajar perusahaan , atau perusahaan itu hanya menghasilkan tingkat pengembalian
modal yang sangat rendah. Perusahaan akan impas, atau menghasilkan tingkat laba
nol, bila perusahaan tersebut menghasilkan persis sama dengan tingkat
pengembalian modal yang wajar.
Dari perbedaan-perbedaan diatas,
kita dapat mengatakan bahwa pada saat tertentu, salah satu diantara tiga
kondisi berikut berlaku bagi perusahaan dimana pun : (1) Perusahaan
menghasilkan laba positif (2) Perusahaan mengalami kerugian (3) Perusahaan
hanya impas. Perudahaan yang menghasilkan laba ingin memaksimalkan laba dalam
jangka pendek, sementar yang mengalami kerugian ingin meminimalkan rugi dalam
jangka pendek.
MEMAKSIMALKAN
LABA
Contoh:
TABEL 8.1 Biaya Mingguan Pencucian Mobil Blue Velvet
|
BIAYA TOTAL TETAP (TFC)
|
BIAYA VARIABEL TOTAL (TVC) (800
pencucian)
|
BIAYA TOTAL
(TC = TFC+TVC): $3.600
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Pengembalian normal bagi para investor $1.000
|
1. Tenaga $1.000
2.
Bahan-bahan 600
$1.600
|
Penerimaan
total (TR) di P =
$5 (800 x $5)= $4.000
|
|
|
2. Biaya tetap lain
(kontrak pemeliharaan,
asuransi,
dst) 1.000
$2.000
|
|
Laba (TR-TC)
$400
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MEMINIMALKAN
KERUGIAN
Perusahaan
yang tidak mendapat laba positif atau pun impas berarti merugi. Perusahaan yang
merugi jatuh ke dalam dua kategori: (1) Perusahaan yang merasa bahwa lebih baik
menutup usaha dengan segera dan menanggung kerugian yang sama dengan biaya
tetap, (2) Perusahaan yang terus beroperasi dalam jangka pendek untuk
meminimalkan kerugian mereka. Hal yang paling penting adalah perusahaan
tersebut tidak mungkin keluar dari industri jangka pendek.
Laba
(atau rugi) operasi (kadang-kadang disebut penerimaan operasi bersih)
dirumuskan sebagai penerimaan total (TR) dikurangi biaya variabel total (TVC).
Secara umum:
·
Jika penerimaan melampaui biaya
variabel, laba operasi itu positif dan dapat digunakan untuk menutup biaya
tetap dan mengurangi kerugian, dan keadaan itu menyebabkan perusahaan tersebut
tetap beroperasi.
·
Jika penerimaan lebih kecil daripada
biaya variabel, perusahaan itu menanggung kerugian operasi yang mendorong
keseluruhan kerugian ke atas biaya tetap. Jika seperti itu, perusahaan tersebut
dapat meminimalkan kerugiannya dengan menutup usaha.
Berproduksi
dengan Merugi guna Mengurangi Biaya Tetap: Kembali ke Blue Velvet.
TABEL
8.2 Perusahaan Akan Beroperasi Jika Penerimaan Total Menutup Biaya Variabel
Total
|
Kasus 1: Menutup Usaha
|
Kasus 2: Beroperasi Pada Harga =
$3
|
|
Penerimaan Total (q=0): $0
|
Penerimaan total ($3x800): $2.400
|
|
Biaya tetap $2.000
|
Biaya tetap $2.000
|
|
Biaya variabel +
0
|
Biaya variabel
+11.600
|
|
Biaya total $2.000
|
Biaya total $3.600
|
|
|
|
|
Rugi/laba (TR-TC): -$2.000
|
Laba/Rugi operasi (TR-TVC):
$800
|
|
|
Laba/Rugi Total (TR-TC): -$1.200
|
|
|
|
|
|
|
Gambar
8.2 Perusahaan yang Menderita Rugi tetapi Menunjukkan Laba Operasi dalam Jangka
Pendek
Apabila
harga mencukupi untuk menutup biaya variabel rata-rata, perusahaan yang
mengalami kerugian jangka pendek akan terus beroperasi dan bukannya menutup
usaha. Penerimaan total (P*xq*) menutup biaya variabel, hingga menyisakan laba
operasi sebesar $90 yang dapat menutup sebagian biaya tetap dan mengurangi
kerugian hingga $135.
Ingatlah bahwa biaya total rata-rata
itu sama dengan biaya tetap rata-rata ditambah n karata-rata adalah selisih
antara biaya total rata-rata dengan biaya variabel rata-rata:
ATC =
AFC+AVC
atau
AFC = ATC – AVC = $4,10
- $3,10 = $1,00
Jika kita hanya berpikir secara
rata-rata, tampaknya masuk akal bahwa perusahaan dalam posisi itu akan terus
beroperasi:
|
Sepanjang
harga (yang sama dengan penerimaan rata-rata per unit) itu cukup untuk
menutup biaya variabel rata-rata, perusahaan itu tetap untung jika beroperasi
daripada menutup usaha.
|
Menutup
Usaha untuk Meminimalkan Kerugian Bila penerimaan tidak cukup untuk menutup
bahkan biaya variabelnya, perusahaan yang menderita rugi lebih baik menutup
usahanya bahkan dalam jangka pendek.
|
Kapan
saja harga (penerimaan rata-rata) berada dibawah titik minimum kurva biaya
variabel rata-rata, penerimaan total akan lebih kecil daripada biaya variabel
total, dan laba operasi akan menjadi negatif- artinya, akan timbul kerugian
operasi. Dengan kata lain, manakala harga berada dibawah semua titik pada
kurva biaya variabel rata-rata, perusahaan itu akan mengalami kerugian
operasi pada tingkat keluaran (output) berapa pun yang mungkin dapat
dipilihnya. Jika seperti itu masalahnya, perusahaan itu akan berhenti berproduksi
dan menanggung kerugian yang sama dengan biaya tetap. Itulah sebabnya mengapa
titik terendah kurva biaya variabel rata-rata disebut titik penutup usaha. Pada semua harga di atas itu, kurva MC
memperlihatkan tingkat keluaran (output) yang memaksimalkan laba. Pada setiap
harga dibawahnya, keluaran (output) optimal dalam jangka pendek adalah nol.
|
Sekarang
kita dapat memberikan batasan terhadap pernyataan kita yang terdahulu bahwa
kurva biaya marjinal, perusahaan kompetitif secara sempurna sesungguhnya adalah
kurva penawaran jangka pendek perusahaan tersebut.
|
Kurva
penawaran jangka pendek perusahaan persaingan adalah bagian kurva biaya
marjinal yang terletak di atas kurva biaya variabel rata-ratanya.
|
KURVA
PENAWARAN INDUSTRI JANGKA PENDEK
Adalah jumlah dari kurva penawaran
masing-masing perusahaan- yakni, kurva-kurva biaya marjinal (di atas AVC) semua
perusahaan dalam industri itu.
TABEL
8.3 Perusahaan akan Menutup Usaha Jika Penerimaan Lebih Kecil Total daripada
Biaya Variabel Total
|
Kasus 1: Menutup Usaha
|
Kasus 2: Beroperasi pada Harga =
$1,50
|
|
Penerimaan Total (q=0): $0
|
Penerimaan total ($1,50x800): $1.200
|
|
Biaya tetap $2.000
|
Biaya tetap
$2.000
|
|
Biaya variabel + 0
|
Biaya
variabel
+1.600
|
|
Biaya total $2.000
|
Biaya total
$3.600
|
|
Laba/Rugi (TR-TC): -$2.000
|
Laba/Rugi
operasi (TR-TVC): -$400
|
|
|
Laba/Rugi
Total (TR-TC): -$2.400
|
|
|
|
|
|
|
ARAH JANGKA PANJANG: TINJAUAN ULANG
Keputusan
jangka panjang masing-masing perusahaan tergantung pada kemungkinan biaya
mereka pada berbagai skala operasi. Selain harus menganalisis berbagai
teknologi yang akhirnya menghasilkan struktur biaya dalam jangka pendek.
Perusahaan hasur pula membandingkan biaya mereka pada berbagai skala pabrik
yang pada akhirnya menghasilkan biaya jangka panjang. Barang kali skala operasi
yang lebih besar akan mengurangi biaya produksi dan memberikan perangsang yang
lebih besar lagi bagi perusahaan pencari laba untuk mngembangkan usaha. Atau
barang kali perusahaan besar akan menjumpai masalah-masalah yang menghambat
pertumbuhan. Analisis kemungkinan-kemungkinan jangka panjang akan lebih rumit
daripada analisis jangka pendek, karena makin banyak hal yang bersifat variabel
skala pabrik misalnya tidak dan tidak ada biaya tetap karena perusahaan dapat
keluar dari industri mereka dalam jangka panjang tersebut. Dalam teori
perusahaan bisa memilih skala operasi mana saja dan dengan demikian mereka
harus menganalisis banyak kemungkinan pilihan.
TABEL
8.4 Laba, Rugi, dan Keputusan-keputusan Perusahaan Persaingan Sempurna dalam Jangka
Panjang, Pendek
|
|
KONDISI JANGKA PENDEK
|
KEPUTUSAN JANGKA PENDEK
|
KEPUTUSAN JANGKA PANJANG
|
|
Laba Kerugian
|
TR > TC
|
P = MC: beroperasi
|
Meluas: perusahaan baru masuk
|
|
|
1. Dengan
laba operasi
|
P= MC:
beroperasi
|
Menciut:
perusahaan keluar
|
|
|
(TR ≥ TVC)
|
(kerugian
< biaya tetap)
|
|
|
|
2. Dengan
rugi operasi
|
Menutup
usaha:
|
Menciut:
perusahaan keluar
|
|
|
(TR ≤ TVC)
|
Kerugian =
biaya tetap
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BIAYA JANGKA PANJANG: SKALA EKONOMI
DAN SKALA DISEKONOMI
Bentuk biaya rata-rata jangka
panjang perusahaan tergantung pada bagaimana biaya itu berubah bila skala
operasinya berubah. Bagi perusahaan tertentu, bertambahnya skala, atau ukuran,
akan mengurangi biaya. Bagi perusahaan lainnya peningkatan skala menjurus ke
inefisiensi dan pemborosan.
Apabila peningkatan skala produksi
perusahaan menyebabkan turunnya biaya rata-rata, kita mengatakan bahwa ada peningkatan hasil saat skala bertambah,
atau skala ekonomi. Apabila biaya
rata-rata tidak berubah ketika skala produksinya berubah, kita mengatakan bahwa
terdapat hasil konstan saat skala
bertambah. Akhirnya, apabila kenaikan skala produksi perusahaan menyebabkan
biaya rata-rata menjadi lebih tinggi kita mengatakan terdapat penurunan hasil saat skala bertambah,
atau skala disekonomi.
HASIL
YANG MENAIK SAAT SKALA BERTAMBAH
Secara teknis,
ungkapan hasil yang menaik saat skala bertambah merujuk pada hubungan antara
masukan (input) dengan keluaran (output). Jika fungsi produksi memperlihatkan
hasil yang menaik, maksudnya adalah bahwa kenaikan persentase tertentu pada
masukan (input) menyebabkan peningkatan presentase yang lebih besar dalam
produksi keluaran (output).
Apabila perusahaan dapat memperhitungkan harga masukan
(input) dengan harga tetap, peningkatan hasil saat skala bertambah juga berarti
bahwa ketika keluaran (output) naik, biaya produksi rata-ratanya turun. Istilah
skala ekonomi merujuk langsung ke
penurunan biaya per unit keluaran (output) yang muncul dari produksi yang
skalanya lebih besar.
Sumber-Sumber
Skala Ekonomi - Skala ekonomi tertentu bukan timbul dari
teknologi melainkan dari ukurannya saja. Perusahaan yang sangat besar misalnya,
mempu membeli masukan (input) secara besar-besaran dengan potongan harga.
Perusahaan besar dapat juga memproduksi beberapa masukan (input) mereka sendiri
dengan banyak penghematan. Dan mereka tentu mampu menghemat biaya angkutan
apabila mereka mengirimkan barang-barang dalam bentuk borongan.
Skala ekonomi dapat dilihat di sekeliling kita. Misal,
sebuah bis yang mengangkut 100 orang antara Vancouver dan Seattle menggunakan
tenaga kerja, modal dan bensin dalam jumlah yang lebih kecil daripada 100 orang
yang mengemudikan 100 aneka macam mobil. Biaya per penumpang (biaya rata-rata)
di bus itu lebih rendah.
Penyajian
Grafis – Kurva biaya rata-rata jangka panjang (LRAC) sebuah
perusahaan memperlihatkan berbagai skala yang dapat dipilih perusahaan untuk
beroperasi dalam jangka panjang. Dengan kata lain, kurva LRAC perusahaan
membingkai semua kurva jangka pendek yang mungkin bersesuaian dengan tiap-tiap skala yang berbeda.
Kapan pun, skala pabrik yang ada menentukan posisi dan
bentuk kurva biaya jangka pendek perusahaan itu. Tetapi perusahaan tersebut
harus mempertimbangkan perencanaan strategi jangka panjangnya apakah perlu
membangun pabrik dengan skala yang berbeda-beda. Kurva biaya rata-rata jangka
panjang menunjukkan posisi berbagai macam rangkaian kurva jangka pendek yang
salah satunya harus dipilih perusahaan itu. Kurva biaya rata-rata jangka
panjang adalah “amplop” bagi serangkaian kurva-kurva jangka pendek; ia
“membungkus” rangkaian semua kemungkinan kurva jangka pendek hingga seperti
sebuah amplop.
Setiap saat perusahaan menghadapi dua batasan biaya yang
berlainan. Dalam jangka panjang, perusahaan dapat mengubah skala operasi mereka
dan sebagai akibatnya biaya mungkin berubah. Tetapi pada saat tertentu, ada
skala operasi tertentu yang membatasi kemampuan perusahaan tersebut untuk
berproduksi dalam jangka pendek. Itulah sebabnya mengapa kurva jangka pendek
maupun jangka panjang dilihat dalam diagram yang sama.
HASIL
YANG KONSTAN SAAT SKALA BERTAMBAH
Secara
teknis, istilah hasil yang konstan memiliki arti bahwa hubungan kuantitatif
antara masukan (input) dan keluaran (output) senantiasa konstan, saat
keluarannya (output) dinaikkan. Lebih jauh, apabila harga masukan (input) itu
tetap, hasil konstan menyiratkan bahwa biaya produksi rata-rata tidak berubah
saat skalanya berubah. Dengan kata lain, hasil konstan saat skala bertambah
berarti bahwa kurva biaya rata-rata jangka panjang perusahaan tersebut
senantiasa datar.
Ekonom
telah mempelajari data biaya secara luas selama bertahun-tahun untuk
memperkirakan sejauh mana skala ekonomi itu ada. Bukti mengemukakan bahwa dalam
kebanyakan industri, perusahaan tidak harus menjadi raksasa untuk mewujudkan penghematan biaya dari skala
ekonomi. Sebagian besar perusahaan menghadapi hasil konstan saat skalanya
bertambah sepanjang mereka dapat menduplikasi pabrik-pabriknya yang telah ada.
Dengan demikian, apabila anda memperhatikan industri maju, anda dapat
menyaksikan perusahaan yang ukurannya berbeda-beda beroperasi dengan biaya yang
serupa. Perusahaan itu berproduksi dengan menggunakan skala pabrik yang kurang
lebih sama, tetapi perusahaan yang lebih besar semata-mata memiliki lebih
banyak pabrik dan tidak memiliki struktur biaya yang berbeda.
HASIL
YANG MENURUN SAAT SKALA BERTAMBAH
Apabila biaya
rata-rata meningkat saat skala produksinya bertambah, perusahaan menghadapi penurunan hasil saat skalanya bertambah,
atau skala disekonomi. Contoh skala
disekonomi adalah ketidakefisienan birokrasi. Ketika ukurannya melampaui titik
tertentu, operasi birokrasi cenderung menjadi lebih sulit dikelola. Dapat
dibayangkan apa yang terjadi apabila sebuah perusahaan tumbuh menjadi berat di
atas dengan banyak manajer yang telah mengumpulkan senioritas (masa kerja) dan
gaji yang tinggi. Fungsi koordinasi menjadi lebih rumit bagi perusahaan yang lebih besar
ketimbang bagi yang kecil, dan ada kemungkinan besar bahwa perusahaan tersebut
akan hancur.
Perusahaan besar juga mempunyai kemungkinan yang lebih
bedar akan bertikai dengan serikat buruh daripada perusahaan kecil.
Serikat-serikat buruh dapat menuntut upah yang lebih tinggi dan tunjangan yang
lebih banyak, mogok, memaksa perusahaan untuk mengeluarkan biaya-biaya hukum,
dan melakukan tindakan-tindakan lain yang akan menaikkan biaya produksi.
Perusahaan yang sama dapat menghadapi hasil yang
menurun-konsep jangka pendek- tetapi masih memilik kurva biaya jangka panjang
yang memperlihatkan skala ekonomi. Bentuk kurva biaya rata-rata jangka panjang
perusahaan tergantung pada bagaimana biaya bereaksi terhadap perubahan skala.
Sejumlah perusahaan memang mengalami skala ekonomi, dan kurva biaya rata-rata
jangka panjang mereka mirik ke bawah. Kebanyakan perusahaan tampaknya memiliki
kurva biaya rata-rata jangka panjang yang datar. Yang lainya sedang menghadapi
disekonomi, dan biaya rata-rata jangka
panjang mereka mengarah ke atas.
Efisiensi ekonomis memerlukan pemanfaatan skala ekonomi
(jika ada) dan menghindari skala disekonomi. Skala pabrik yang optimal adalah skala yang meminimalkan biaya
rata-rata. Persaingan akan memaksa perusahaan menggunakan skala optimal
tersebut.
PENYESUAIAN
JANGKA PANJANG TERHADAP KONDISI JANGKA PENDEK
Industri tertentu tidak berada dalam ekulibrium jika
perusahaan tersebut terdorong untuk masuk atau keluar dalam jangka panjang.
Apabila perusahaan mendapatkan laba ekonomis (laba di atas normal) atau
mengalami kerugian ekonomis (laba di bawah normal, atau negatif), industri itu
tidak berada dalam ekuilibrium dan perusahaan akan mengubah perilaku mereka.
Apa yang mungkin mereka lakukan sangat bergantung pada biaya jangka panjang.
LABA
JANGKA PENDEK : PENGEMBANGAN USAHA MENUJU EKUILIBRIUM
Kurva biaya
rata-rata yang berbentuk U menyiratkan terdapatnya sejumlah skala ekonomi yang
terbentuk di dalam industri tersebut, dan bahwa semua perusahaan pada akhirnya
mulai mengalami disekonomi pada skala operasi tertentu.
Sepanjang perusahaan menikmati laba dan ada skala
ekonomi, perusahaan akan mengembangkan usahanya. Adanya laba positif akan
menarik pemain-pemain baru masuk ke dalam industri tersebut. Baik masuknya
perusahaan baru maupun perluasan usaha perusahaan yang telah memiliki efek yang
sama terhadap kurva penawaran industri tersebut kedalam jangka pendek. Keduanya
menyebabkan kurva penawaran jangka pendek bergeser ke kanan, dari S0 ke S1.
Karena kurva penawaran industri jangka pendek merupakan jumlah semua kurva
biaya marjinal (di atas titik minimum AVC) dari semua perusahaan di dalam
industri tersebut, maka kurva itu akan bergeser ke kanan, karena 2 alasan: (1)
karena semua perusahaan dalam industri tersebut mengembangkan usaha ke skala
yang lebih besar, masing-masing kurva biaya marjinal jangka pendek mereka
bergeser ke kanan, (2) dengan masuknya perusahaan baru ke industri tersebut,
terdapat lebih banyak perusahaan dan dengan demikian lebih banyak tambahan
kurva biaya marjinal,
Pada umumnya perusahaan akan terus mengembangkan usaha
sepanjang masih ada skala ekonomi yang dapat diwujudkan, dan perusahaan baru
akan terus masuk sepanjang laba positif yang diperoleh. Masing-masing
perusahaan akan memilih skala pabrik yang memproduksi produknya dengan biaya
rata-rata jangka panjang yang minimum. Persaingan mendorong perusahaan untuk
memilih bukan hanya teknologi yang paling efisien dalam jangka pendek,
melainkan uga skala operasi yang paling efisien dalam jangka panjang.
Dalam jangka panjang, harga ekuilibrium (P*) sama dengan
biaya rata-rata jangka panjang, biaya marjinal jangka pendek, dan biaya rata-rata
jangka pendek. Laba terdorong ke nol : P* = SRMC = SRAC = LRAC, dimana SRMC
melambangkan biaya marjinal, SRAC melambangkan biaya rata-rata jangka pendek,
dan LRAC melambangkan biaya rata-rata jangka panjang. Tidak ada harga lain yang
merupakkan ekuilibrium. Harga berapa pun diatas P* berarti bahwa ada laba yang
dapat diraih dalam industri itu, sehingga perusahaan baru akan terus masuk.
Harga berapa pun dibawah P* berarti bahwa perusahaan menderita kerugian,
sehingga perusahaan akan keluar dari industri itu. Hanya pada P* laba akan
persis sama dengan nol, dan hanya pada P* industri berada pada ekuilibrium.
KERUGIAN
JANGKA PENDEK : PENURUNAN USAHA MENUJU EKUILIBRIUM
Perusahaan yang menderita kerugian jangka pendek
terdorong untuk meninggalkan industri itu dalam jangka panjang, tetapi tidak
mungkin melakukan hal itu dalam jangka pendek. Sebagaimana anda lihat, sejumlah
perusahaan yang mengalami kerugian akan memilih menutup usaha dan menanggung
kerugian yang sama besarnya dengan biaya tetap. Perusahaan lain akan terus
berproduksi dalam jangka pendek saat berusaha meminimalkan kerugian mereka.
Pada umumnya sepanjang kerugian masih bertahan lama dalam
industri, perusahaan akan menutup usaha dan meninggalkan industri itu, dengan
demikian mengurangi penawaran-menggeser kurva penawaran ke kiri. Ketika itu
terjadi harga akan naik. Kenaikan harga secara perlahan-lahan itu mengurangi
kerugian perusahaan yang tetap tinggal dalam industri tersebut sampai pada
akhirnya kerugian itu terhapuskan.
Walaupun kita mulai dari industri yang perusahaannya
mendapatkan laba atau dari industri yang mengalami kerugian, keadaan terakhir
ekuilibrium persaingan jangka panjang akan sama dengan: P* = SRMC = SRAC =
LRAC, dan laba sama dengan 0. Pada titik itu masing-masing perusahaan beroperasi
pada skala pabrik yang paling efisien – yakni, pada titik minimum kurva LRAC
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar