Selasa, 01 September 2015

RESUME "BIAYA DAN KEPUTUSAN KELUARAN (OUTPUT) DALAM JANGKA PANJANG"



BAB 8
BIAYA DAN KEPUTUSAN KELUARAN (OUTPUT) DALAM JANGKA PANJANG

GARIS-GARIS BESAR :
Kondisi Jangka Pendek dan Arah Jangka Panjang
·         Memaksimalkan Laba
·         Meminimalkan Kerugian
·         Kurva Penawaran Industri Jangka Pendek
·         Arah Jangka Panjang: Tinjauan Ulang

Biaya Jangka Panjang: Skala Ekonomi dan Skala Disekonomi
·         Hasil yang Menaik saat Skala Bertambah
·         Hasil yang Konstan saat skala Bertambah
·         Hasil yang Menurun saat Skala Bertambah

Penyesuaian Jangka Panjang terhadap Kondisi Jangka Pendek
·         Laba Jangka Pendek:
§  Pengembangan Usaha menuju Ekuilibrium
·         Kerugian Jangka Pendek:
§  Penciutan Usaha menuju Ekuilibrium
·         Mekanisme Penyesuaian Jangka Panjang:
§  Investasi Mengalir ke Arah Peluang Laba




              

 RESUME:
Setiap perusahaan harus membuat tiga keputusan dasar:
(1) Berapa keluaran (output) yang akan diproduksi atau ditawarkan, (2) Bagaimana memproduksi keluaran (output) itu, dan (3) Berapa masing-masing masukan (input) yang diminta.
            Perusahaan menggunakan  informasi tentang harga masukan (input), harga keluaran (output), dan teknologi untuk membuat keputusan-keputusan yang akan menghasilkan laba terbesar. Karena laba itu sama dengan penerimaan dikurangi biaya, perusahaan harus mengetahui dengan harga berapa mereka dapat menjual produknya dan berapa biaya produksinya bila menggunakan teknologi yang paling efisien.
            Sebelum itu kita harus melihat dan mengetahui cara menurunkan kurva-kurva biaya dari fungsi produksi dan harga masukan (input). Setelah perusahaan mempunyai gambaran yang jelas mengenai biaya jangka pendeknya, harga keluaran (output) yang dijual menentukan jumlah keluaran (output) yang akan memaksimalkan laba. Tegasnya, perusahaan persaingan secara sempurna akan menawarkan keluaran (output) hingga ke titik, pada saat harga (penerimaan marjinal) sama dengan biaya marjinal. Oleh karenanya kurva biaya marjinal perusahaan semacam itu adalah sama dengan kurva penawarannya.
            Keputusan-keputusan keluaran (output) (penawaran) dalam jangka panjang tidak begitu mengalami batasan dibandingkan jangka pendek, karena dua alasan: pertama, dalam jangka panjang perusahaan tidak mempunyai faktor produksi tetap yang membatasi produksinya pada skala tertentu. Kedua, perusahaan bebas memasuki industri untuk mencari laba dan meninggalkan industri untuk menghindari kerugian.
Jangka panjang mempunyai implikasi penting terhadap bentuk kurva-kurva biaya. Skala yang tidak tetap,  membuat bentuk-bentuk kurva biaya menjadi lebih kompleks dan lebih sulit digeneralisasi.
            Keputusan jangka panjang dengan meninjau perusahaan dalam tiga keadaan jangka pendek: (1) Perusahaan yang mendapat laba ekonomi, (2) Perusahaan yang mengalami kerugian ekonomi tetapi terus beroperasi untuk mengurangi atau meminimalkan kerugian tersebut, dan (3) Perusahaan yang memutuskan untuk menutup usaha dan menanggung kerugian yang besarnya persis sama dengan biaya tetap.
            Semua perusahaan tunduk pada spektrum situasi laba atau rugi jangka pendek, tanpa menghiraukan struktur pasarnya.


KONDISI JANGKA PENDEK DAN ARAH JANGKA PANJANG
            Tingkat pengembalian modal yang wajar adalah tingkat yang cukup memadai sehingga membuat para investor yang telah menanamkan modal tetap berminat terhadap industri tersebut. Apabila perusahaan mendapatkantingkat pengembalian modal di atas nilai wajar perusahaaan itu memiliki laba yang positif, begitupun sebaliknya dengan laba negatif. Bila ada laba positif dalam industri tertentu, investor baru cenderung tertarik ke industri tersebut.
            Bila perusahaan menderita rugi, berarti perusahaan itu mendapatkan tingkat pengembalian modal dibawah nilai wajar perusahaan , atau perusahaan itu hanya menghasilkan tingkat pengembalian modal yang sangat rendah. Perusahaan akan impas, atau menghasilkan tingkat laba nol, bila perusahaan tersebut menghasilkan persis sama dengan tingkat pengembalian modal yang wajar.
            Dari perbedaan-perbedaan diatas, kita dapat mengatakan bahwa pada saat tertentu, salah satu diantara tiga kondisi berikut berlaku bagi perusahaan dimana pun : (1) Perusahaan menghasilkan laba positif (2) Perusahaan mengalami kerugian (3) Perusahaan hanya impas. Perudahaan yang menghasilkan laba ingin memaksimalkan laba dalam jangka pendek, sementar yang mengalami kerugian ingin meminimalkan rugi dalam jangka pendek.

MEMAKSIMALKAN LABA

Contoh:
TABEL 8.1 Biaya Mingguan Pencucian Mobil Blue Velvet
BIAYA TOTAL TETAP (TFC)
BIAYA VARIABEL TOTAL (TVC) (800 pencucian)
BIAYA TOTAL
(TC = TFC+TVC): $3.600





1. Pengembalian normal bagi para    investor            $1.000
                   
1. Tenaga         $1.000
2. Bahan-bahan    600
                              $1.600
Penerimaan total (TR) di P =
$5 (800 x $5)= $4.000


2. Biaya tetap lain
(kontrak pemeliharaan,
 asuransi, dst)    1.000
                           $2.000


Laba (TR-TC)
    $400










MEMINIMALKAN KERUGIAN

Perusahaan yang tidak mendapat laba positif atau pun impas berarti merugi. Perusahaan yang merugi jatuh ke dalam dua kategori: (1) Perusahaan yang merasa bahwa lebih baik menutup usaha dengan segera dan menanggung kerugian yang sama dengan biaya tetap, (2) Perusahaan yang terus beroperasi dalam jangka pendek untuk meminimalkan kerugian mereka. Hal yang paling penting adalah perusahaan tersebut tidak mungkin keluar dari industri jangka pendek.
Laba (atau rugi) operasi (kadang-kadang disebut penerimaan operasi bersih) dirumuskan sebagai penerimaan total (TR) dikurangi biaya variabel total (TVC). Secara umum:
·         Jika penerimaan melampaui biaya variabel, laba operasi itu positif dan dapat digunakan untuk menutup biaya tetap dan mengurangi kerugian, dan keadaan itu menyebabkan perusahaan tersebut tetap beroperasi.
·         Jika penerimaan lebih kecil daripada biaya variabel, perusahaan itu menanggung kerugian operasi yang mendorong keseluruhan kerugian ke atas biaya tetap. Jika seperti itu, perusahaan tersebut dapat meminimalkan kerugiannya dengan menutup usaha.


Berproduksi dengan Merugi guna Mengurangi Biaya Tetap: Kembali ke Blue Velvet.
TABEL 8.2 Perusahaan Akan Beroperasi Jika Penerimaan Total Menutup Biaya Variabel Total
Kasus 1: Menutup Usaha
Kasus 2: Beroperasi Pada Harga = $3
Penerimaan Total (q=0):               $0
Penerimaan total ($3x800):   $2.400
Biaya tetap                               $2.000
Biaya tetap                                $2.000
Biaya variabel                          +        0
Biaya variabel                         +11.600
Biaya total                                $2.000
Biaya total                                 $3.600


Rugi/laba (TR-TC):                  -$2.000
Laba/Rugi operasi (TR-TVC):     $800

Laba/Rugi Total (TR-TC):       -$1.200





Gambar 8.2 Perusahaan yang Menderita Rugi tetapi Menunjukkan Laba Operasi dalam Jangka Pendek
Apabila harga mencukupi untuk menutup biaya variabel rata-rata, perusahaan yang mengalami kerugian jangka pendek akan terus beroperasi dan bukannya menutup usaha. Penerimaan total (P*xq*) menutup biaya variabel, hingga menyisakan laba operasi sebesar $90 yang dapat menutup sebagian biaya tetap dan mengurangi kerugian hingga $135.
            Ingatlah bahwa biaya total rata-rata itu sama dengan biaya tetap rata-rata ditambah n karata-rata adalah selisih antara biaya total rata-rata dengan biaya variabel rata-rata:
                                    ATC = AFC+AVC
                                                atau
                        AFC = ATC – AVC = $4,10 - $3,10 = $1,00

            Jika kita hanya berpikir secara rata-rata, tampaknya masuk akal bahwa perusahaan dalam posisi itu akan terus beroperasi:

Sepanjang harga (yang sama dengan penerimaan rata-rata per unit) itu cukup untuk menutup biaya variabel rata-rata, perusahaan itu tetap untung jika beroperasi daripada menutup usaha.

            Menutup Usaha untuk Meminimalkan Kerugian Bila penerimaan tidak cukup untuk menutup bahkan biaya variabelnya, perusahaan yang menderita rugi lebih baik menutup usahanya bahkan dalam jangka pendek.

Kapan saja harga (penerimaan rata-rata) berada dibawah titik minimum kurva biaya variabel rata-rata, penerimaan total akan lebih kecil daripada biaya variabel total, dan laba operasi akan menjadi negatif- artinya, akan timbul kerugian operasi. Dengan kata lain, manakala harga berada dibawah semua titik pada kurva biaya variabel rata-rata, perusahaan itu akan mengalami kerugian operasi pada tingkat keluaran (output) berapa pun yang mungkin dapat dipilihnya. Jika seperti itu masalahnya, perusahaan itu akan berhenti berproduksi dan menanggung kerugian yang sama dengan biaya tetap. Itulah sebabnya mengapa titik terendah kurva biaya variabel rata-rata disebut titik penutup usaha. Pada semua harga di atas itu, kurva MC memperlihatkan tingkat keluaran (output) yang memaksimalkan laba. Pada setiap harga dibawahnya, keluaran (output) optimal dalam jangka pendek adalah nol.

Sekarang kita dapat memberikan batasan terhadap pernyataan kita yang terdahulu bahwa kurva biaya marjinal, perusahaan kompetitif secara sempurna sesungguhnya adalah kurva penawaran jangka pendek perusahaan tersebut.

Kurva penawaran jangka pendek perusahaan persaingan adalah bagian kurva biaya marjinal yang terletak di atas kurva biaya variabel rata-ratanya.

KURVA PENAWARAN INDUSTRI JANGKA PENDEK
              Adalah jumlah dari kurva penawaran masing-masing perusahaan- yakni, kurva-kurva biaya marjinal (di atas AVC) semua perusahaan dalam industri itu.

TABEL 8.3 Perusahaan akan Menutup Usaha Jika Penerimaan Lebih Kecil Total daripada Biaya Variabel Total
Kasus 1: Menutup Usaha
Kasus 2: Beroperasi pada Harga = $1,50
Penerimaan Total (q=0):          $0
Penerimaan total ($1,50x800):      $1.200
Biaya tetap                          $2.000
Biaya tetap                                         $2.000
Biaya variabel                     +        0
Biaya variabel                                    +1.600
Biaya total                           $2.000
Biaya total                                          $3.600
Laba/Rugi (TR-TC):           -$2.000
Laba/Rugi operasi (TR-TVC):             -$400

Laba/Rugi Total (TR-TC):                 -$2.400






ARAH JANGKA PANJANG: TINJAUAN ULANG
            Keputusan jangka panjang masing-masing perusahaan tergantung pada kemungkinan biaya mereka pada berbagai skala operasi. Selain harus menganalisis berbagai teknologi yang akhirnya menghasilkan struktur biaya dalam jangka pendek. Perusahaan hasur pula membandingkan biaya mereka pada berbagai skala pabrik yang pada akhirnya menghasilkan biaya jangka panjang. Barang kali skala operasi yang lebih besar akan mengurangi biaya produksi dan memberikan perangsang yang lebih besar lagi bagi perusahaan pencari laba untuk mngembangkan usaha. Atau barang kali perusahaan besar akan menjumpai masalah-masalah yang menghambat pertumbuhan. Analisis kemungkinan-kemungkinan jangka panjang akan lebih rumit daripada analisis jangka pendek, karena makin banyak hal yang bersifat variabel skala pabrik misalnya tidak dan tidak ada biaya tetap karena perusahaan dapat keluar dari industri mereka dalam jangka panjang tersebut. Dalam teori perusahaan bisa memilih skala operasi mana saja dan dengan demikian mereka harus menganalisis banyak kemungkinan pilihan.










TABEL 8.4 Laba, Rugi, dan Keputusan-keputusan Perusahaan Persaingan Sempurna dalam Jangka Panjang, Pendek

KONDISI JANGKA PENDEK

KEPUTUSAN JANGKA PENDEK
KEPUTUSAN JANGKA PANJANG
Laba Kerugian
TR > TC
P = MC: beroperasi
Meluas: perusahaan baru masuk

1. Dengan laba operasi
P= MC: beroperasi
Menciut: perusahaan keluar

(TR ≥ TVC)
(kerugian < biaya tetap)



2. Dengan rugi operasi
Menutup usaha:
Menciut: perusahaan keluar

(TR ≤ TVC)
Kerugian = biaya tetap














BIAYA JANGKA PANJANG: SKALA EKONOMI DAN SKALA DISEKONOMI

            Bentuk biaya rata-rata jangka panjang perusahaan tergantung pada bagaimana biaya itu berubah bila skala operasinya berubah. Bagi perusahaan tertentu, bertambahnya skala, atau ukuran, akan mengurangi biaya. Bagi perusahaan lainnya peningkatan skala menjurus ke inefisiensi dan pemborosan.
            Apabila peningkatan skala produksi perusahaan menyebabkan turunnya biaya rata-rata, kita mengatakan bahwa ada peningkatan hasil saat skala bertambah, atau skala ekonomi. Apabila biaya rata-rata tidak berubah ketika skala produksinya berubah, kita mengatakan bahwa terdapat hasil konstan saat skala bertambah. Akhirnya, apabila kenaikan skala produksi perusahaan menyebabkan biaya rata-rata menjadi lebih tinggi kita mengatakan terdapat penurunan hasil saat skala bertambah, atau skala disekonomi.

HASIL YANG MENAIK SAAT SKALA BERTAMBAH
            Secara teknis, ungkapan hasil yang menaik saat skala bertambah merujuk pada hubungan antara masukan (input) dengan keluaran (output). Jika fungsi produksi memperlihatkan hasil yang menaik, maksudnya adalah bahwa kenaikan persentase tertentu pada masukan (input) menyebabkan peningkatan presentase yang lebih besar dalam produksi keluaran (output).
            Apabila perusahaan dapat memperhitungkan harga masukan (input) dengan harga tetap, peningkatan hasil saat skala bertambah juga berarti bahwa ketika keluaran (output) naik, biaya produksi rata-ratanya turun. Istilah skala ekonomi merujuk langsung ke penurunan biaya per unit keluaran (output) yang muncul dari produksi yang skalanya lebih besar.
Sumber-Sumber Skala Ekonomi -  Skala ekonomi tertentu bukan timbul dari teknologi melainkan dari ukurannya saja. Perusahaan yang sangat besar misalnya, mempu membeli masukan (input) secara besar-besaran dengan potongan harga. Perusahaan besar dapat juga memproduksi beberapa masukan (input) mereka sendiri dengan banyak penghematan. Dan mereka tentu mampu menghemat biaya angkutan apabila mereka mengirimkan barang-barang dalam bentuk borongan.
            Skala ekonomi dapat dilihat di sekeliling kita. Misal, sebuah bis yang mengangkut 100 orang antara Vancouver dan Seattle menggunakan tenaga kerja, modal dan bensin dalam jumlah yang lebih kecil daripada 100 orang yang mengemudikan 100 aneka macam mobil. Biaya per penumpang (biaya rata-rata) di bus itu lebih rendah.
Penyajian Grafis – Kurva biaya rata-rata jangka panjang (LRAC) sebuah perusahaan memperlihatkan berbagai skala yang dapat dipilih perusahaan untuk beroperasi dalam jangka panjang. Dengan kata lain, kurva LRAC perusahaan membingkai semua kurva jangka pendek yang mungkin bersesuaian dengan tiap-tiap skala yang berbeda.
            Kapan pun, skala pabrik yang ada menentukan posisi dan bentuk kurva biaya jangka pendek perusahaan itu. Tetapi perusahaan tersebut harus mempertimbangkan perencanaan strategi jangka panjangnya apakah perlu membangun pabrik dengan skala yang berbeda-beda. Kurva biaya rata-rata jangka panjang menunjukkan posisi berbagai macam rangkaian kurva jangka pendek yang salah satunya harus dipilih perusahaan itu. Kurva biaya rata-rata jangka panjang adalah “amplop” bagi serangkaian kurva-kurva jangka pendek; ia “membungkus” rangkaian semua kemungkinan kurva jangka pendek hingga seperti sebuah amplop.
            Setiap saat perusahaan menghadapi dua batasan biaya yang berlainan. Dalam jangka panjang, perusahaan dapat mengubah skala operasi mereka dan sebagai akibatnya biaya mungkin berubah. Tetapi pada saat tertentu, ada skala operasi tertentu yang membatasi kemampuan perusahaan tersebut untuk berproduksi dalam jangka pendek. Itulah sebabnya mengapa kurva jangka pendek maupun jangka panjang dilihat dalam diagram yang sama.
HASIL YANG KONSTAN SAAT SKALA BERTAMBAH
Secara teknis, istilah hasil yang konstan  memiliki arti bahwa hubungan kuantitatif antara masukan (input) dan keluaran (output) senantiasa konstan, saat keluarannya (output) dinaikkan. Lebih jauh, apabila harga masukan (input) itu tetap, hasil konstan menyiratkan bahwa biaya produksi rata-rata tidak berubah saat skalanya berubah. Dengan kata lain, hasil konstan saat skala bertambah berarti bahwa kurva biaya rata-rata jangka panjang perusahaan tersebut senantiasa datar.
Ekonom telah mempelajari data biaya secara luas selama bertahun-tahun untuk memperkirakan sejauh mana skala ekonomi itu ada. Bukti mengemukakan bahwa dalam kebanyakan industri, perusahaan tidak harus menjadi raksasa untuk  mewujudkan penghematan biaya dari skala ekonomi. Sebagian besar perusahaan menghadapi hasil konstan saat skalanya bertambah sepanjang mereka dapat menduplikasi pabrik-pabriknya yang telah ada. Dengan demikian, apabila anda memperhatikan industri maju, anda dapat menyaksikan perusahaan yang ukurannya berbeda-beda beroperasi dengan biaya yang serupa. Perusahaan itu berproduksi dengan menggunakan skala pabrik yang kurang lebih sama, tetapi perusahaan yang lebih besar semata-mata memiliki lebih banyak pabrik dan tidak memiliki struktur biaya yang berbeda.
HASIL YANG MENURUN SAAT SKALA BERTAMBAH
            Apabila biaya rata-rata meningkat saat skala produksinya bertambah, perusahaan menghadapi penurunan hasil saat skalanya bertambah, atau skala disekonomi. Contoh skala disekonomi adalah ketidakefisienan birokrasi. Ketika ukurannya melampaui titik tertentu, operasi birokrasi cenderung menjadi lebih sulit dikelola. Dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila sebuah perusahaan tumbuh menjadi berat di atas dengan banyak manajer yang telah mengumpulkan senioritas (masa kerja) dan gaji yang tinggi. Fungsi koordinasi menjadi lebih  rumit bagi perusahaan yang lebih besar ketimbang bagi yang kecil, dan ada kemungkinan besar bahwa perusahaan tersebut akan hancur.
            Perusahaan besar juga mempunyai kemungkinan yang lebih bedar akan bertikai dengan serikat buruh daripada perusahaan kecil. Serikat-serikat buruh dapat menuntut upah yang lebih tinggi dan tunjangan yang lebih banyak, mogok, memaksa perusahaan untuk mengeluarkan biaya-biaya hukum, dan melakukan tindakan-tindakan lain yang akan menaikkan biaya produksi.
            Perusahaan yang sama dapat menghadapi hasil yang menurun-konsep jangka pendek- tetapi masih memilik kurva biaya jangka panjang yang memperlihatkan skala ekonomi. Bentuk kurva biaya rata-rata jangka panjang perusahaan tergantung pada bagaimana biaya bereaksi terhadap perubahan skala. Sejumlah perusahaan memang mengalami skala ekonomi, dan kurva biaya rata-rata jangka panjang mereka mirik ke bawah. Kebanyakan perusahaan tampaknya memiliki kurva biaya rata-rata jangka panjang yang datar. Yang lainya sedang menghadapi disekonomi, dan biaya rata-rata  jangka panjang mereka mengarah ke atas.
            Efisiensi ekonomis memerlukan pemanfaatan skala ekonomi (jika ada) dan menghindari skala disekonomi. Skala pabrik yang optimal adalah skala yang meminimalkan biaya rata-rata. Persaingan akan memaksa perusahaan menggunakan skala optimal tersebut.
PENYESUAIAN JANGKA PANJANG TERHADAP KONDISI JANGKA PENDEK
            Industri tertentu tidak berada dalam ekulibrium jika perusahaan tersebut terdorong untuk masuk atau keluar dalam jangka panjang. Apabila perusahaan mendapatkan laba ekonomis (laba di atas normal) atau mengalami kerugian ekonomis (laba di bawah normal, atau negatif), industri itu tidak berada dalam ekuilibrium dan perusahaan akan mengubah perilaku mereka. Apa yang mungkin mereka lakukan sangat bergantung pada biaya jangka panjang.
LABA JANGKA PENDEK : PENGEMBANGAN USAHA MENUJU EKUILIBRIUM
            Kurva biaya rata-rata yang berbentuk U menyiratkan terdapatnya sejumlah skala ekonomi yang terbentuk di dalam industri tersebut, dan bahwa semua perusahaan pada akhirnya mulai mengalami disekonomi pada skala operasi tertentu.
            Sepanjang perusahaan menikmati laba dan ada skala ekonomi, perusahaan akan mengembangkan usahanya. Adanya laba positif akan menarik pemain-pemain baru masuk ke dalam industri tersebut. Baik masuknya perusahaan baru maupun perluasan usaha perusahaan yang telah memiliki efek yang sama terhadap kurva penawaran industri tersebut kedalam jangka pendek. Keduanya menyebabkan kurva penawaran jangka pendek bergeser ke kanan, dari S0 ke S1. Karena kurva penawaran industri jangka pendek merupakan jumlah semua kurva biaya marjinal (di atas titik minimum AVC) dari semua perusahaan di dalam industri tersebut, maka kurva itu akan bergeser ke kanan, karena 2 alasan: (1) karena semua perusahaan dalam industri tersebut mengembangkan usaha ke skala yang lebih besar, masing-masing kurva biaya marjinal jangka pendek mereka bergeser ke kanan, (2) dengan masuknya perusahaan baru ke industri tersebut, terdapat lebih banyak perusahaan dan dengan demikian lebih banyak tambahan kurva biaya marjinal,
            Pada umumnya perusahaan akan terus mengembangkan usaha sepanjang masih ada skala ekonomi yang dapat diwujudkan, dan perusahaan baru akan terus masuk sepanjang laba positif yang diperoleh. Masing-masing perusahaan akan memilih skala pabrik yang memproduksi produknya dengan biaya rata-rata jangka panjang yang minimum. Persaingan mendorong perusahaan untuk memilih bukan hanya teknologi yang paling efisien dalam jangka pendek, melainkan uga skala operasi yang paling efisien dalam jangka panjang.
            Dalam jangka panjang, harga ekuilibrium (P*) sama dengan biaya rata-rata jangka panjang, biaya marjinal jangka pendek, dan biaya rata-rata jangka pendek. Laba terdorong ke nol : P* = SRMC = SRAC = LRAC, dimana SRMC melambangkan biaya marjinal, SRAC melambangkan biaya rata-rata jangka pendek, dan LRAC melambangkan biaya rata-rata jangka panjang. Tidak ada harga lain yang merupakkan ekuilibrium. Harga berapa pun diatas P* berarti bahwa ada laba yang dapat diraih dalam industri itu, sehingga perusahaan baru akan terus masuk. Harga berapa pun dibawah P* berarti bahwa perusahaan menderita kerugian, sehingga perusahaan akan keluar dari industri itu. Hanya pada P* laba akan persis sama dengan nol, dan hanya pada P* industri berada pada ekuilibrium.
KERUGIAN JANGKA PENDEK : PENURUNAN USAHA MENUJU EKUILIBRIUM
            Perusahaan yang menderita kerugian jangka pendek terdorong untuk meninggalkan industri itu dalam jangka panjang, tetapi tidak mungkin melakukan hal itu dalam jangka pendek. Sebagaimana anda lihat, sejumlah perusahaan yang mengalami kerugian akan memilih menutup usaha dan menanggung kerugian yang sama besarnya dengan biaya tetap. Perusahaan lain akan terus berproduksi dalam jangka pendek saat berusaha meminimalkan kerugian mereka.
            Pada umumnya sepanjang kerugian masih bertahan lama dalam industri, perusahaan akan menutup usaha dan meninggalkan industri itu, dengan demikian mengurangi penawaran-menggeser kurva penawaran ke kiri. Ketika itu terjadi harga akan naik. Kenaikan harga secara perlahan-lahan itu mengurangi kerugian perusahaan yang tetap tinggal dalam industri tersebut sampai pada akhirnya kerugian itu terhapuskan.
            Walaupun kita mulai dari industri yang perusahaannya mendapatkan laba atau dari industri yang mengalami kerugian, keadaan terakhir ekuilibrium persaingan jangka panjang akan sama dengan: P* = SRMC = SRAC = LRAC, dan laba sama dengan 0. Pada titik itu masing-masing perusahaan beroperasi pada skala pabrik yang paling efisien – yakni, pada titik minimum kurva LRAC mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar